Termasuk Kekerasan Seksual, Ini Rentetan Fakta Mengenai Ekshibisionisme

Kekerasan seksual tidak hanya pemerkosaan, kenali lebih lanjut tentang batasan-batasannya disini

Kekerasan seksual menjadi isu atau permasalahan yang harus segera dituntaskan. Sebab kejahatan itu memiliki dampak yang mengkhawatirkan bagi para penyintas atau korbannya. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, dalam kurun waktu 12 tahun kekerasan seksual terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen atau hampir 8 kali lipat. Dalam kurun waktu 12 tahun tersebut, tercatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan seksual yang terjadi terhadap perempuan hingga akhir tahun 2019 lalu.

Salah satu jenis kekerasan seksual yang marak terjadi di Indonesia adalah ekshibisionisme. Ekshibisionisme merupakan tindakan memperlihatkan atau mempertontonkan alat kelamin kepada orang lain dengan tujuan pemenuhan hasrat atau kepuasan diri secara seksual.

American Psychiatric Association menyatakan seksual ekshibisionis masuk ke dalam kategori parafilia. Penyimpangan perilaku seksual ini merupakan gangguan melalui interaksi non-fisik.

Ekshibisionisme terjadi karena kelainan atau gangguan kejiwaan pelakunya. Tindakan ini juga merupakan salah satu jenis penyimpangan seksual. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai salah satu tindak kekerasan seksual ini, simak rentetan fakta ekshibisionisme di bawah ini:

  • Reaksi Korban Adalah Sumber Kepuasan

Reaksi korban, seperti kaget, takut, dan sebagainya, merupakan sumber kepuasan bagi para ekshibisionis. Ekspresi korban itulah yang diubah oleh pelaku kekerasan seksual jenis ini untuk memenuhi hasratnya. Oleh karena itu, disarankan untuk menghadapi pelaku setenang mungkin dan tidak heboh. Sebab pelaku akan merasa kecewa jika korban bersikap cuek.

  • Pelaku Merasa Superior

Salah satu pemicu ekshibionisme adalah pelaku merasa berkuasa terhadap lingkungannya atau ‘berkuasa’ sehingga tidak takut atau malu terhadap apa yang diperbuatnya.

Perasaan superior itulah yang membuat pelaku mampu menakut-nakuti atau mendapatkan reaksi kaget dari orang lain ketika melakukan ekshibisionisme tersebut.

  • Termasuk Gangguan Kejiwaan, tetapi Perlu Pemeriksaan Lanjutan

Menurut para ahli, meski ekshibionisme adalah penyimpangan seksual yang dilatarbelakangi fantasi dan dorongan seksual yang kuat, pelaku belum bisa langsung disebut mengalami gangguan jiwa.

Psikolog mengatakan butuh pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah aksi yang dilakukan pelaku termasuk gangguan kejiwaan. Yang pasti, perilaku ini sangat tidak wajar dan meresahkan.

  • Perilaku Ekshibisionisme Tidak Mengenal Gender

Tindak ekshibisionisme memang cenderung dilakukan oleh pria, tetapi tidak menutup kemungkinan jika wanita juga menjadi ekshibisionis. Seorang wanita pun bisa memamerkan tubuhnya dengan tujuan mendapatkan kepuasan seksual dari reaksi korban.

  • Ada Banyak Ragamnya

Gangguan ekshibisionis memiliki subtipe yang beragam. Ada orang yang lebih suka mengekspos alat kelamin mereka kepada anak-anak praremaja, orang dewasa, maupun keduanya. Umumnya, gejala kelainan seksual yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan seksual ini muncul pada masa remaja akhir atau dewasa awal dan biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia.

  • Pengobatan bagi Ekshibisionis

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk para ekshibisionis adalah terapi. Dengan bantuan obat dan terapi yang tepat, perilaku ini dapat dikurangi. Dalam buku The SAGE Encyclopedia of Psychology and Gender (2017), terapi perilaku kognitif (CBT) menjadi pengobatan paling efektif untuk ekshibisionisme. 

Terapi ini berfokus pada cara untuk memenuhi keintiman dan kebutuhan emosional. Terapi ini juga menyertakan pentingnya empati bagi para korban, serta mengidentifikasi pikiran dan perasaan yang memicu perilaku ekshibisionis.

Jika pelaku sudah bisa mengidentifikasi pikirannya, psikolog atau psikiater akan membantu mereka untuk mengelola dorongan seksual tersebut.Selain itu, artikel Psychology Today menyebutkan pendekatan psikoterapi lain yang bisa digunakan untuk menyembuhkan ekshibisionis. Misalnya pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan koping, dan restrukturisasi kognitif. Terapi lainnya adalah terapi obat-obatan, seperti penggunaan obat yang bisa menghambat hormon seksual dan mengakibatkan penurunan hasrat seksual.

Tak dapat dimungkiri jika di sekitar kita banyak terdapat ekshibisionis. Setelah mengetahui fakta-fakta di atas, diharapkan jika suatu waktu kita menjadi korban dari tindak kekerasan seksual tersebut, kita dapat bertindak dengan tepat. 

Peran orang tua dalam fenomena ini mungkin amat krusial. Jika Anda melihat tanda-tanda perilaku itu pada anak Anda, sebisa mungkin segera bawa dia ke psikolog atau psikiater agar kemungkinan melakukan tindak kekerasan seksual tersebut dapat dicegah. Selain itu, peran orang dalam memberi pengetahuan dan informasi mengenai ekshibisionisme kepada anak juga penting agar mereka tidak turut menjadi korban.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>