Seberapa Bahayakah Minyak Jelantah untuk Dikonsumsi?

Tentu Anda tahu tentang minyak jelantah, bukan? Minyak jelantah adalah jenis minyak yang awalnya merupakan minyak goreng, namun telah digunakan berkali-kali. Penggunaan minyak goreng yang berulang ini menyebabkan kandungan nabati di dalamnya menjadi rusak.

Membedakan minyak jelantah dengan minyak goreng sangat mudah. Pasalnya minyak jelantah cenderung berwarna cokelat, kuning kecokelatan, bahkan cokelat tua kehitaman. Sementara itu, minyak goreng yang masih dalam kondisi baik biasanya berwarna kuning keemasan. Di samping itu, minyak jelantah memiliki bau tengik akibat proses oksidasi atau pemanasan berulang.

Penggunaan minyak jelantah dapat memengaruhi rasa dan aroma hidangan. Makanan yang diolah dengan minyak jelantah biasanya memiliki bau tengik dan juga cita rasanya serupa dengan bahan makanan yang sebelumnya dimasak. Tidak hanya itu, kandungan gizi dari makanan yang diolah tadi dapat berkurang. Dampak negatif lainnya, bahkan minyak jelantah dilaporkan berisiko tinggi memicu gangguan kesehatan.

Seberapa bahayakah minyak jelantah untuk dikonsumsi?

Jika mengolah masakan untuk keluarga, seperti di rumah, penggunaan minyak goreng secara berulang cenderung lebih mudah dikontrol. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk makanan yang dijual di luar rumah, seperti gorengan di pinggir jalan yang umumnya menggunakan minyak jelantah. Selain itu, penggunaan minyak jelantah juga sering ditemukan di tempat makan di perkotaan besar yang umumnya memiliki banyak pengunjung.

Penggunaan minyak jelantah ini menyebabkan adanya proses oksidasi atau pemanasan berulang, yang nantinya memicu radikal bebas dan senyawa sejenis racun yang berbahaya untuk kesehatan manusia. Radikal bebas terkenal sebagai senyawa dengan sifat reaktif terhadap tubuh, yang dapat menimbulkan perubahan kimiawi dan merusak unsur atau komponen sel penting dalam tubuh, seperti lipid, karbohidrat, protein, nukleotida, dan gugus nonprotein.

Efek dari radikal bebas ini bersifat destruktif, yang berarti merusak secara perlahan dan baru akan terasa dampaknya dalam beberapa jangka waktu yang panjang. Kelompok usia dewasa hingga senior rentan mengalami efek dari radikal bebas ini. Sebagai contoh, orang dewasa lebih rentan terkena stres oksidatif atau sering kali mengalami kerusakan sel dalam tubuh akibat tidak kuat lagi melawan radikal bebas yang tertumpuk.

Jika radikal bebas yang dipicu oleh konsumsi minyak jelantah dalam jangka waktu yang panjang tadi telah menguasai tubuh, Anda berisiko tinggi mengalami:

  • Penyakit genetik, seperti Parkinson atau Huntington.
  • Diabetes.
  • Katarak dan penurunan kemampuan penglihatan.
  • Penuaan dini yang ditandai dengan munculnya keriput pada kulit, kusam, tumbuh uban, hingga rambut yang mudah rontok.
  • Penyakit kardiovaskular yang dipicu oleh tersumbatnya arteri jantung.
  • Penyakit yang berkaitan dengan sistem imun tubuh, seperti kanker atau rheumatoid arthritis.
  • Penyakit yang membahayakan sistem saraf otak, termasuk sumsum tulang belakang, seperti Alzheimer atau demensia.

Apakah minyak goreng dapat digunakan berulang?

Berdasarkan laporan dari Health Promotion Board Singapura (badan khusus yang mengampanyekan pola hidup sehat di Singapura), penggunaan minyak jelantah diperbolehkan dengan syarat:

  • Tidak berbau: jika minyak goreng yang telah digunakan menghasilkan bau tengik dan teksturnya menjadi lebih kental atau lengket, minyak jelantah tidak boleh untuk digunakan kembali.
  • Belum digunakan lebih dari dua kali pemanasan: minyak goreng yang sering digunakan akan memproduksi radikal bebas lebih banyak dan hanya mengandung sedikit vitamin dan antioksidan.
  • Tidak berwarna pekat: ciri minyak jelantah yang tidak boleh digunakan kembali, yaitu berwarna cokelat atau kehitaman.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>