Pilihlah Obat Batuk Berdahak yang Tepat

Bagi yang pernah mengalami batuk berdahak, tentu memahami bahwa masalah kesehatan yang satu ini sangat mengganggu aktivitas. Tak hanya itu, bahkan batuk berdahak dapat menurunkan kualitas tidur. Wajar saja, orang kerap mencoba aneka cara untuk mengatasinya, mulai dari konsumsi jeruk nipis dan kecap hingga minum obat batuk berdahak.

Batuk sendiri sebetulnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Ketika ada debu, alergen, asap rokok, atau benda asing lain masuk, tubuh berusaha mencegahnya masuk. Respon yang diberikan tubuh adalah dengan batuk.

Adapun yang terjadi ketika seseorang mengalami batuk berdahak, tubuh memproduksi terlalu banyak lendir sehingga terasa mengganjal pada tenggorokan atau dada.

Memilih obat batuk berdahak

Sebetulnya, untuk mengatasi batuk berdahak, Anda perlu mengetahui pemicunya terlebih dahulu. Apakah yang menyebabkan saluran pernapasan Anda memproduksi lendir dalam jumlah banyak?

Rata-rata kondisi tersebut ditimbulkan oleh virus common cold  atau pilek. Beberapa disebabkan oleh virus influenza. Artinya, Anda tidak perlu minum obat batuk apa-apa jika penyebabnya kedua virus tersebut. Anda hanya perlu meningkatkan sistem kekebalan tubuh alami yang akan berperan membasmi virus-virus tersebut.

Lain halnya dengan batuk berdahak yang disebabkan oleh bakteri, kondisi ini perlu diatasi dengan antibiotik. Namun, seperti kita tahu, Anda hanya boleh mengonsumsi antibiotik atas anjuran dari dokter.

Nah, bagaimana dengan gejala batuknya sendiri? Jika dibiarkan, kondisi batuk berdahak sangat mengganggu, maka diperlukan obat untuk mengatasinya.

Dalam pemilihan obat ini, Anda perlu sangat teliti dan berhati-hati, sebab obat batuk yang beredar di pasaran bukan hanya obat untuk batuk berdahak, melainkan masih ada jenis obat batuk lain.

Ketika akan membeli obat batuk, Anda dapat membaca petunjuk yang tertera pada kemasan obat tersebut, apakah obat tersebut merupakan obat batuk berdahak atau dalam istilah kefarmasian disebut ekspektoran. Obat batuk jenis ini akan memperbanyak produksi dahak encer, sehingga secara keseluruhan kekentalan dahak berkurang dan menjadi mudah untuk dikeluarkan.

Mekanisme lain dari ekspektoransi, jenis obat ini akan merangsang mukosa lambung sehingga secara refleks menstimulasi sekresi kelenjar saluran pernapasan. Dampaknya, dahak akan lebih mudah dikeluarkan.

Obat-obat yang termasuk ke dalam ekspektoransi dan cukup sering digunakan adalah amonium klorida dan gliseril guaiakolat. Amonium klorida jarang ditemukan sebagai sediaan tunggal, lebih sering menjadi bagian campuran bersama beberapa obat lain.

Kemampuan kedua jenis obat tersebut dalam mengatasi batuk berdahak tidak diragukan lagi. Namun, Anda juga perlu waspada dengan efek samping yang mungkin timbul. Amonium klorida dapat menyebabkan insufisiensi ginjal, hati, dan paru-paru.

Meski tidak separah amonium klorida, gliseril guaiakolat juga tetap memiliki efek samping, yaitu mengantuk, mual, serta muntah.

Bagaimana bila minum obat batuk berdahak atau ekspektoran saja tidak cukup? Dahak masih sulit dikeluarkan, misalnya. Anda dapat menambahkan jenis obat mukolitik yang dapat mengencerkan lendir di saluran pernapasan.

Kekentalan dahak atau sputum dipengaruhi oleh rantai mukoprotein dan mukopolisakarida. Bila rantai tersebut dipecah, maka dahak akan lebih encer dan sangat mudah dikeluarkan. Itulah yang dilakukan obat batuk jenis mukolitik. Di pasaran, Anda bisa menemukan bromheksin, ambroksol, atau asetilsistein yang bekerja sebagai mukolitik.

Sebelum memutuskan membeli obat batuk berdahak, baca secara seksama brosur yang tersedia pada kemasan obat tersebut. Pastikan Anda memilih obat yang tepat. Jika ragu, berkonsultasilah dengan apoteker yang bertugas di apotek. Dan bila sakit berlanjut, segera periksakan diri Anda ke dokter.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>