Category Penyakit

MRI Fungsional 

MRI fungsional, atau disingkat sebagai fMRI, merupakan tindakan medis yang melibatkan pemeriksaan pencitraan untuk mengukur aktivitas otak manusia. fMRI mampu mendeteksi perubahan pada kadar oksigen dan aliran darah pada otak. Bagian otak yang lebih aktif akan memakai lebih banyak oksigen, dan hal tersebut membuat aliran darah meningkat.

Mengapa MRI Fungsional Diperlukan?

MRI fungsional diperlukan dokter karena dokter dapat melihat fungsi otak normal dan otak yang bermasalah karena cedera atau kondisi medis tertentu. MRI fungsional juga dapat membantu dokter mengetahui apakah pasien akan mengalami risiko sebelum melakukan operasi atau tindakan terapi invasif lainnya untuk menjaga kondisi otak.

Selain itu, MRI fungsional diperlukan untuk:

  • Memeriksa fungsi anatomis otak.
  • Memeriksa bagian otak yang mengendalikan fungsi penting dalam otak seperti berbicara dan bergerak.
  • Membantu memeriksa efek dari penyakit yang menghambat fungsi otak seperti stroke dan trauma.
  • Memantau pertumbuhan dan fungsi tumor otak.
  • Memantau perencanaan operasi atau terapi invasif lainnya pada otak.

Persiapan Sebelum Melakukan MRI Fungsional

Jika Anda ingin melakukan MRI fungsional, Anda perlu beritahu dokter jika Anda:

  • Memiliki kondisi medis tertentu seperti penyakit ginjal atau hati.
  • Memiliki alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
  • Memiliki penyakit asma.
  • Sedang hamil.
  • Baru menjalani operasi.

Selain itu, alat-alat berbahan logam tidak diperbolehkan selama melakukan MRI fungsional, karena medan magnet pada mesin MRI akan menarik logam sehingga dapat menghambat proses pemeriksaan. Berikut adalah alat-alat yang tidak diperbolehkan:

  • Katup jantung buatan.
  • Tindik pada tubuh.
  • Implan koklea di bagian telinga.
  • Gigi palsu.
  • Infus pump.
  • Peluru atau serpihan logam.
  • Implanted nerve stimulator.
  • Sendi buatan berbahan logam.
  • Tato berbahan logam.
  • Alat pacu jantung yang ditanamkan ke dalam tubuh.
  • Klip logam atau sekrup.

Anda diminta untuk melepaskan perlengkapan atau aksesoris seperti kacamata dan jam tangan. Anda juga diminta untuk mengenakan pakaian longgar tanpa kancing atau risleting berbahan logam.

Jika Anda mengidap klaustrofobia atau ketidaknyamanan terhadap ruang tertutup, Anda akan dibawa ke ruang yang lebih terbuka atau menggunakan obat penenang sebelum melakukan MRI fungsional.

Prosedur MRI Fungsional

Berikut adalah prosedur MRI fungsional:

  • Kepala pasien akan diletakkan pada penyangga khusus supaya dapat mempertahankan posisinya.
  • Selama pemeriksaan berlangsung, pasien diminta untuk mengikuti perintah sederhana seperti melihat gambar atau menggerakan jari. Hal tersebut akan meningkatkan aktivitas otak pada bagian yang berperan dalam perintah tersebut. Aktivitas otak meningkat disertai dengan pelebaran pembuluh darah, perubahan unsur kimiawi, dan semakin banyak aliran oksigen yang akan muncul pada prosedur tersebut.
  • Pada sebagian kasus, cairan pewarna kontras akan disuntikkan ke pembuluh darah vena pada bagian lengan pasien. Hal tersebut membantu dokter melihat struktur di dalam tubuh pasien dengan lebih jelas.

MRI fungsional berlangsung sekitar 1 jam.

Hasil Dari MRI Fungsional

Dokter spesialis radiologi akan melihat hasil MRI fungsional, kemudian memberitahu pasien hasil tersebut. Tindakan medis lain akan diperlukan, namun tergantung pada hasil pemeriksaan MRI fungsional pasien.

Meskipun jarang terjadi, MRI fungsional juga bisa menimbulkan efek samping berupa sakit kepala, nyeri, mual, dan merasakan sensasi terbakar di bagian tubuh yang disuntik. Sebagian pasien juga bisa terkena alergi akibat cairan pewarna kontras.

Kesimpulan

MRI fungsional merupakan salah satu tindakan medis yang diperlukan untuk mengetahui kondisi otak pasien. Prosedur MRI fungsional membutuhkan waktu yang cukup lama dan dapat menyebabkan berbagai efek samping, walaupun jarang terjadi. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa tanyakan ke dokter tentang MRI fungsional.

more

Hifema, Kondisi Menyakitkan Yang Dapat Sebabkan Gangguan Penglihatan

Hifema adalah terjadinya pengumpulan darah pada ruang anterior mata (daerah antara kornea dan iris). Darah dapat menutupi hampir semua bagiain iris dan pupil, sehingga menghalangi penglihatan sebagian atau keseluruhan. Hifema biasanya terasa menyakitkan, dan apabila tidak dirawat atau diobati, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen. Hifema disebabkan karena adanya trauma pada mata dan disertai dengan meningkatnya tekanan intraocular (tekanan di dalam mata). Akan tetapi, hifema dapat muncul dengan tiba-tiba pada anak-anak yang menderita kondisi medis lain seperti hemofilia dan anemia sel sabit. Perawatan medis secepatnya diperlukan apabila hifema terjadi. Cara terbaik dalam mencegah hifema adalah dengan menggunakan pelindung mata saat berolahraga. Selain itu, jangan pernah menganggap remeh cidera mata. Meskipun tidak ada pendarahan, Anda harus tetap memeriksakannya pada dokter mata.

Gejala dan penyebab

Gejala hifema mudah diketahui, yaitu adanya darah pada bagian depan mata, sensitivitas terhadap cahaya, rasa nyeri, padangan yang terhalang atau kabur, dengan darah mungkin tidak dapat terlihat apabila hifema berukuran kecil. Penyebab umum hifema adalah adanya trauma mata, biasanya akibat cidera olahraga, kecelakaan di tempat kerja atau rumah, dan terjatuh. Hifema juga dapat disebabkan oleh pembuluh darah tidak normal pada permukaan iris (bagian berwarna mata), infeksi mata yang disebabkan oleh virus herpes, gangguan penggumpalan darah seperti hemofilia dan anemia sel sabit, ganggaun lensa intraocular (implant lensa buatan), dan kanker mata.

Diagnosa dan perawatan

Pertama, dokter akan meninjau riwayat medis lengkap Anda untuk melihat apakah Anda pernah menderita trauma mata sebelumnya atau memiliki kondisi lain yang dapat menyebabkan pendarahan pada mata. Setelah melakukan pemeriksaan fisik pada daerah mata, dokter akan menggunakan metode diagnosa seperti pemeriksaan mata komprehensif guna menguji kemampuan Anda dalam melihat, pemeriksaan tekanan mata, pemeriksaan bagian dalam mata dengan menggunakan mikroskop khusus bernama “slit lamp”, dan pemindain CT untuk memeriksa kerusakan pada area orbita guna melihat apakah ada trauma mata atau tidak.

Apabila hifema Anda bersifat ringan, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar satu minggu. Anda dapat mengobati nyeri yang dirasakan menggunakan obat-obatan penghilang rasa sakit OTC yang tidak mengandung aspirin. Aspirin harus dihindari karena obat ini akan mengencerkan darah, dan malah dapat meningkatkan pendarahan. Sementara itu, dokter akan memutuskan bagaimana ia perlu merawat hifema berdasarkan beberapa jenis faktor, seperti usia, riwayat kesehatan, dan kondisi keseluruhan Anda; seberapa parah cidera yang dialami; toleransi Anda terhadap obat-obatan khusus; serta pendapat dan preferensi pribadi. Setelah dokter menerima informasi ini, ia dapat memutuskan perawatan apa yang cocok dengan kondisi ini. Adapaun jenis pilihan perawatan hifema di antaranya adalah obat tetes mata (obat tetes steroid untuk membatasi peradangan dan obat tetes dilatasi untuk mengatasi rasa nyeri), menutupi mata yang sakit, istirahat, membatasi pergerakan mata (Anda disarankan untuk tidak banyak membaca), mengangkat kepala setidaknya 40 derajat saat tidur (untuk membantu tubuh menyerap darah), dan memeriksa tekanan mata setiap hari.

Salah satu komplikasi paling serius dari hifema adalah adanya peningkatan tekanan pada mata. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat melakukan operasi untuk membersihkan darah berlebih. Ambang tekanan intraocular akan lebih rendah pada mereka yang menderita penyakit sel sabit. Tekanan di mata dapat meningkat karena darah akibat hifema dapat menggumpal di kanal drainase mata, menyebabkan kerusakan jangka panjang yang dihubungkan dengan glaukoma.

more
Gejala alergi telur mirip dengan alergi lain, seperti reaksi kulit seperti eksim, bintik, atau pembengkakan

Mengenal Alergi Telur Pada Anak dan Orang Dewasa

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang zat yang tidak berbahaya, contohnya protein dalam makanan. Sistem kekebalan tubuh menciptakan antibodi untuk menyerang makanan tersebut. Saat makanan tersebut dimakan, tubuh akan melepaskan zat kimia seperti histamine untuk melindungi tubuh. Alergi makanan meningkat 18 persen pada tahun antara 1997 dan 2007. Alergi susu merupakan alergi makanan yang paling sering dijumpai, diikuti alergi kacang dan alergi telur. Sekitar 2 persen anak memiliki alergi telur. Dalam kasus telur, protein di dalam putih telur menjadi penyebab reaksi alergi dibandingkan dengan kuning telur, meskipun beberapa orang dapat menderita alergi karena keduanya. 

Gejala alergi telur

Gejala alergi telur mirip dengan alergi lain, seperti reaksi kulit seperti eksim, bintik, atau pembengkakan; sakit perut, mual, diare, dan muntah; mengi dan kesulitan bernapas; hidung meler atau tersumbat; dan detak jantung yang cepat. Dalam kasus yang langka, syok anaphylactic dapat terjadi, yang mana membutuhkan tindakan kegawatdaruratan medis mengingat kondisi ini dapat mengancam nyawa. 

Alergi telur merupakan alergi makanan yang paling sering ditemui pada anak-anak. Hampir semua reaksi alergi terhadap telur terjadi pada anak-anak dengan eksim kekanak-kanakan. Alergi telur biasanya muncul pada usia dini, dengan reaksi yang paling parah terjadi saat anak berusia 6 hingga 15 bulan. Gejala umum alergi telur pada anak di antaranya adalah reaksi kontak kulit, tanda-tanda kemerahan pada wajah, dan gatal-gatal di sekitar mulut. 

Pada orang dewasa, alergi telur sangat jarang ditemui. Gejala klinis pada orang dewasa hampir selalu bermula saat anak-anak atau remaja. Namun, ada kasus-kasus terdokumentasi serangan alergi telur pada orang dewasa. Hal ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menjadi peka terhadap telur dan bereaksi karenanya. Apabila dikonsumsi, protein di dalam telur akan diidentifikasi sebagai penyerang dan tubuh mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, menyebabkan reaksi alergi. Gejala bervariasi, mulai dari mual ringan atau timbulnya eksim, hingga reaksi anaphylactic. Gejala lain alergi telur pada orang dewasa di antaranya adalah pembengkakan bibir dan kelopak mata, mata yang gatal dan berair, tenggorokan atau telinga yang gatal, sesak napas, dan mengi atau batuk. Carilah bantuan medis apabila gejala-gejala tersebut terjadi. 

Komplikasi kesehatan

Faktor tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang menderita alergi telur, seperti anak-anak dengan kondisi atopic dermatitis. Anak-anak dengan reaksi kulit jenis ini memiliki risiko lebih tinggi menderita alergi makanan dibandingkan dengan mereka yang tidak. Selain itu, risiko menderita alergi telur lebih besar terjadi pada mereka yang memiliki orangtua dengan kondisi asma, alergi makanan, dan alergi jenis lain seperti eksim dan gatal-gatal. Alergi telur juga lebih sering dijumpai pada anak-anak. Dengan bertambahnya usia, sistem pencernaan menguat dan reaksi alergi makanan perlahan mulai berkurang. 

Namun, komplikasi akibat alergi telur masih bisa terjadi. Dalam kasus yang paling parah, reaksi alergi telur membutuhkan suntikan epinephrine dan perawatan kegawatdaruratan. Reaksi sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan alergi telur juga dapat menyebabkan kondisi kesehatan lain. Apabila Anda atau anak Anda memiliki alergi telur, ia atau Anda memiliki risiko yang lebih tinggi memiliki alergi terhadap makanan lain seperti susu, kacang, dan kedelai; memiliki alergi terhadap bulu hewan, tungau debu, atau serbuk sari rumput; reaksi kulit alergi seperti atopic dermatitis; dan asma, yang mana meningkatkan risiko reaksi alergi parah terhadap telur dan makanan lain.

more

Anjuran Penggunaan ACE Inhibitor dalam Penanganan COVID-19

ACE inhibitor adalah kelompok obat hipertensi yang diresepkan dokter untuk mengatasi tekanan darah tinggi

Merupakan obat yang berfungsi untuk melemaskan pembuluh darah, sehingga mampu meringankan kinerja jantung disebut dengan ACE Inhibitor. Dalam penanganan kasus Covid-19 atau virus corona, dokter lebih memerhatikan kebutuhan pasien dengan menggunakan obat tersebut disertai dengan angiotensin receptor blockers (ARBs).

Angiotensin II reseptor blockers (ARBs) merupakan golongan obat-obatan yang digunakan untuk menangani tekanan darah tinggi dan gagal jantung. Pada dasarnya kedua obat ini sama hanya saja cara kerja kedua obat tersebut berbeda. Satu hal yang perlu digaris bawahi dan dimengerti adalah orang dengan penyakit kardiovaskular berisiko tinggi mengalami komplikasi serius akibat Covid-19.

Penggunaan ACE Inhibitor

Virus corona baru atau dikenal juga dengan nama Covid-19 telah menyebabkan pandemi di seluruh belahan dunia. Kepanikan ini membuat empat organisasi kardiologi terbesar dunia turut melawan virus berbahaya tersebut, tentunya guna meminimalisir banyaknya korban yang berjatuhan karena penyebaran virus tersebut.

Keempat organisasi ini antara lain, Dewan Masyarakat Kardiologi Eropa (ESC) tentang Hipertensi, American College of Cardiology (ACC), American Heart Association (AHA) dan Heart Failure Society of America (HSFA). Keempat organisasi ini sepakat menyebut bahwa pasien penderita jantung rentan terhadap virus corona.

Selain itu, organisasi tersebut juga sangat menyarankan kepada para dokter yang ingin membuat perubahan pada regimen pengobatan baik ACEi atau ARBs. Hal ini dilakukan karena banyak terjadi gerakan di media sosial yang memperlihatkan ahli jantung menyarankan untuk penghentian penggunaan ACEi dan ARBs.

Pemakaian obat ini sangat disarankan dengan bukti bahwa angiotensin-converting enzyme 2 diidentifikasi sebagai reseptor fungsional yang mengarah pada virus corona. Akan tetapi, kepantasannya dipertanyakan karena munculnya kekhawatiran yang dikemukakan oleh Dewan ESC tentang Hipertensi, Giovanni de Simone menyusul keberhasilan penelitian pada hewan.

Mengenai manfaat menjaga fungsi paru-paru dari penggunaan obat tersebut, Simone mengaku masih dibutuhkan uji lebih jauh mengenai protektif terhadap komplikasi paru-paru yang serius pada pasien dengan infeksi Covid-19. Karena pengobatan menggunakan ACE-i atau ARBs baru teruji terhadap hewan.

Hal senada diungkapkan Presiden HFSA, Biykem Bozkurt yang menyebut bahwa Covid-19 termasuk gejala pernapasan, bukti terbaru menunjukkan beberapa pasien yang juga mungkin mengalami kerusakan kardiovaskular yang parah. Maka dari itu, keempat organisasi ini kemudian memberi saran terhadap dokter.

Yakni untuk tetap menggunakan ACEi atau ARBs untuk menangani pasien Covid-19 atau virus corona yang memiliki riwayat kardiovaskular sembari menunggu penelitian dan evaluasi lanjutan. Sementara itu, penelitian lain menyatakan bahwa ACE 2 mempunyai efek protektif terhadap infeksi virus corona.

Faktor Pendukung Lain

ACE2 diklaim mampu mengurangi inflamasi sehingga memunculkan potensi dalam terapi virus corona yang disertai dengan penyakit komorbid, misalnya seperti hipertensi dan diabetes melitus. Kondisi ini juga telah diteliti lebih lanjut mengenai pengaruh sensitivitas individu terhadap terapi dan polimorfisme ACE2 individual.

Obat ACE Inhibitor dan ARBs memiliki efek protektif terhadap kerusakan paru-paru atau memiliki efek paradoks pada peningkatan virus. Obat ini memiliki peran penting dalam sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAS) di mana ketidakseibangan angiotensin-mediated angiotensin II-receptor –type1-ACE 2 dapat menyebabkan inflamasi di berbagai sistem tubuh.

Meningkatnya ACE dan Angiotensin II merupakan faktor prognostik yang buruk pada pneumonia berat, penelitian menyebutkan bahwa hewan inhibitor RAS (termasuk ACEi dan ARBs) dapat mengurangi gejala pneumonia berat dan gagal napas. Penelitian lain yang ditemukan lebih tinggi pada tikus yang lebih tua.

more

Trik Terhindari dari Hipertensi Esensial

Tekanan darah tinggi bisa sangat berisiko bagi keselamatan sebab dapat memicu berbagai penyakit lain untuk menyerang. Umumnya seseorang diklasifikasikan menderita tekanan darah tinggi jika rata-rata pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya melebihi 140/90 mg/dl.

Ada dua jenis tekanan darah tinggi. Yang pertama disebut hipertensi primer atau hipertensi esensial. Ini merupakan kondisi tekanan darah yang meningkat tanpa diketahui penyebab pastinya. Yang kedua disebut hipertensi sekunder di mana kondisi tekanan darah meningkat karena adanya gangguan kesehatan pemicu, seperti penyakit tiroid ataupun penyakit ginjal.

Sebagian besar tekanan darah tinggi sebenarnya berjenis hipertensi esensial. Walaupun faktor penyebabnya belum diketahui pasti, sejumlah cara bisa Anda tempuh guna terhindar dari penyakit ini. Berikut adalah beberapa trik pola hidup yang bisa Anda terapkan guna bisa mengendalikan tekanan darah tetap pada jalurnya alias tidak ketinggian.

  1. Jaga Berat Badan

Orang-orang yang memiliki berat badan berlebih bahkan obesitas lebih berisiko terkena hipertensi esensial dibandingkan mereka yang memiliki berat badan ideal. Risiko bagi orang obesitas untuk terkena tekanan darah tinggi bahkan bisa meningkat 2—6 kali lipat dibandingkan orang yang tidak memiliki berat badan berlebih.

Alasan obesitas bisa memicu hipertensi esensial karena ketika berat Anda terlalu berlebih, ginjal akan bekerja lebih keras hingga rentan menimbulkan gangguan. Kondisi inilah yang membuat Anda lebih mudah terserang hipertensi. Karena itu, menjaga pola makan untuk menjaga berat badan ideal menjadi trik terjitu mencegah hipertensi.

  • Perbanyak Konsumsi Serat

Salah satu menyiasati diri untuk terhindari dari risiko hipertensi esensial adalah menjaga asupan makan Anda. Disarankan Anda mengonsumsi serat sesuai rekomendasi badan kesehatan tiap harinya, yakni berkisar 25—30 gram.

Serat yang tercukupi akan membuat Anda lebih mudah merasa kenyang sehingga berat badan lebih terjaga dan kerja ginjal tidak terlalu berat. Sayuran dan buah bisa menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh asupan serat tiap harinya.

  • Kurangi Asupan Garam

Anda pencinta rasa asin dan kerap menambahkan garam ke mangkok makanan? Mulai sekarang, mulai kurangi kebiasaan itu jika tidak mau menderita hipertensi esensial. Dalam sehari pastikan bahwa konsumsi garam Anda tidak melebihi 5 gram, sesuai anjuran World Health Organization (WHO).

Garam menjadi penyebab hipertensi karena jenis bahan makanan ini bisa meningkatkan jumlah air di dalam tubuh secara cukup drastis. Asal tahu saja, semakin banyak volume air dalam tubuh Anda maka tekanan darah bisa ikut naik secara otomatis sehingga menjadi penyebab penyakit.

  • Rutin Berolahraga

Jangan malas untuk menggerakkan fisik Anda jika ingin terhindari dari penyakit bernama hipertensi esensial. Salah satunya caranya dengan berolahraga secara rutin minimal 3 kali seminggu dengan tiap latihan berdurasi 30 menit. Jenis olahraganya terserah Anda. Mulailah dengan berolahraga ringan, sepeti jalan cepat maupun jogging.

Berolahraga secara teratur bisa menjaga berat badan Anda di angka ideal. Terbukti bahkan orang-orang yang aktif berolahraga memiliki risiko lebih rendah 50 persen dibandingkan mereka yang malas bergerak fisik.

  • Kelola Stres

Stres yang tidak terkendali nyatanya menjadi pemicu jitu terkait penyakit hipertensi esensial. Ini karena ketika Anda merasa stres, tubuh Anda akan mengeluarkan hormon stres berupa kortisol dan adrenalin. Di mana keduanya sangat bisa membuat tekanan darah meningkat.

Kortisol meningkatkan gula pada aliran darah yang juga berimpikasi pada kenaikan tekanan darah. Sementara itu, dengan munculnya adrenalin, otot jantung bisa berkontraksi lebih kuat sehingga meningkatkan jumpah darah yang dipompa sekaligus menaikkan tekanan darah. Karena itu, lebih baik mulai sekarang jauhi penyebab stres dan cobalah mengelola stres secara lebih baik.

***

Tekanan darah yang terjaga akan membuat kualitas hidup Anda lebih sehat karena minim risiko terkena penyakit kronis. Karena itulah, menjauhi penyebab hipertensi esensial dan memutuskan mencegahnya dengan trik simpel di atas sangat dianjurkan. 

more

Mengenal Sinus Takikardia, Ketika Ritme Jantung Lebih Cepat

Sinus takikardia dapat dianggap normal dan berbahaya

Sinus takikardia merupakan kondisi di mana ritme jantung berdetak lebih cepat dibandingkan dengan biasanya. Jantung Anda memiliki alat pacu jantung alami yang dikenal dengan nama “simpul sinus”, yang dapat memproduksi impuls listrik yang bergerak melalui otot jantung dan menyebabkan kontraksi/denyut jantung. Ketika impuls listrik tersebut dialirkan dengan normal, kondisi ini disebut dengan ritme sinus normal, yang mana biasanya menghasilkan 60 hingga 100 denyut jantung per menit. Namun, impuls listrik ini terkadang dapat dikirim dengan lebih cepat dibandingkan dengan biasanya, yang menyebabkan sinus takikardia, yang menyebabkan detak jantung lebih dari 100 denyut per menit. 

Di dalam beberapa kasus tertentu, sinus takikardia merupakan hal yang normal dan tidak perlu ditakuti. Contohnya, sinus takikardia dapat terjadi ketika Anda berolahraga dengan lebih keras dibandingkan dengan biasanya atau terkejut karena suatu hal yang mengagetkan. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan sinus takikardia di antaranya adalah rasa cemas atau stres emosional, demam, penggunaan obat-obatan tertentu, stimulant (seperti kafein atau nikotin), dan penggunaan obat-obatan terlarang seperti cocaine. 

Di sisi lain ketika Anda menderita sinus takikardia tanpa ada alasan atau sebab yang jelas, kondisi ini disebut dengan sinus takikardia tidak normal (IST). Orang-orang dengan IST dapat memiliki detak jantung yang sangat cepat saat mereka istirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berat. Selain detak jantung yang cepat, IST juga dapat menyebabkan sesak napas, rasa sakit di dada, pusing atau pingsan, sakit kepala, kesulitan saat berolahraga, dan rasa cemas. Dokter tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab utama IST. Namun, hal ini dapat disebabkan karena faktor kombinasi antara adanya gangguan dan simpul sinus, sinyal saraf tidak biasa yang menyebabkan detak jantung menjadi semakin cepat, dan disfungsi saraf yang bekerja untuk memperlambat detak jantung. 

Dalam kebanyakan kasus umum, sinus takikardia merupakan respon normal pada sistem kardiovaskular yang memicu peningkatan detak jantung. Saat Anda melakukan aktivitas olahraga, detak jantung akan meningkat karena jantung perlu memompa lebih banyak oksigen ke otot-otot tubuh. Sementara itu, stres emosional dan gangguan kecemasan dapat memicu peningkatan pada neurotransmitter seperti dopamine dan epinephrine, yang akan membuat detak jantung menjadi semakin cepat. Selain karena cafein, alkohol, kecemasa, stres, infeksi, dan tekanan darah yang rendah, sinus takikardia normal dapat disebabkan karena adanya kerusakan pada jaringan jantung, gangguan thyroid, dan anemia atau kekurangan darah merah. 

IST sering sulit untuk diatasi mengingat penyebab-penyebab utamanya tidak dapat dimengerti secara pasti. Tergantung pada seberapa cepat denyut nadi Anda, dokter dapat meresepkan penghambat beta dan pengeblok kanal kalsium untuk memperlambat detak jantung. Anda juga perlu melakukan perubahan gaya hidup, seperti menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan meningkatnya detak jantung, seperti stimulant dan situasi yang penuh stres. Anda juga direkomendasikan untuk makan makanan yang menyehatkan jantung, banyak berolahraga, dan menjaga berat badan yang sehat. Dalam kasus-kasus yang parah yang tidak memberikan respon terhadap obat-obatan dan perubahan gaya hidup, Anda bisa mendapatkan prosedur ablasi jantung. Prosedur ini menggunakan energi untuk menghancurkan bagian-bagian kecil jaringan jantung yang terletak pada daerah yang menyebabkan sinus takikardia. 

Sinus takikardia merupakan meningkatnya detak jantung. Dalam kasus umum, kondisi ini merupakan tanda-tanda adanya peningkatan aktivitas tubuh atau Anda mendapatkan banyak asupan kafein. Dalam kasus IST, penyebabnya tidak diketahui, dan Anda membutuhkan bantuan dokter untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan yang dibutuhkan.

more

Faktor risiko dan Gejala Batuk Kronis

Batuk terkadang dapat memberikan rasa tidak nyaman. Padahal, sesungguhnya, batuk memiliki tujuan dan manfaatnya sendiri, yaitu untuk membawa dan membuang lendir dan zat asing lain dari saluran udara yang dapat mengiritasi paru-paru. Batuk juga dapat menjadi respon peradangan atau penyakit. Kebanyakan batuk hanya terjadi sementara. Anda dapat menderita demam atau flu, untuk kemudian batuk selama beberapa hari atau minggu, hingga akhirnya Anda akan merasa sehat kembali. Terkadang, batuk dapat terus terjadi selama beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. Apabila hal tersebut terjadi, Anda mungkin memiliki gangguan kesehatan yang serius dan perlu diwaspadai. Ketika batuk terus menerus terjadi selama 8 minggu atau lebih, kondisi ini disebut dengan nama batuk kronis.

Batuk kronis dapat terjadi akibat kondisi-kondisi seperti alergi ataupun lendir dari hidung. Meskipun sangat jarang ditemui, batuk kronis juga dapat disebabkan oleh kanker atau kondisi paru-paru yang berpotensi mengancam nyawa lainnya. Batuk kronis dapat memiliki dampak yang besar dalam hidup Anda. Batuk dapat membuat Anda terjaga saat malam hari dan mengganggu aktivitas sehari-hari dan kehidupan sosial. Untuk itulah mengapa Anda harus segera memeriksakan diri apabila menderita batuk yang terjadi selama lebih dari 3 minggu.

Penyebab batuk kronis

Beberapa penyebab batuk kronis yang paling umum dijumpai adalah lendir hidung; asma (terutama asma berjenis batuk dengan batuk sebagai gejala utamanya); refluks asam (atau dikenal dengan GERD, penyakit refluks gastroesophageal), bronkitis kronis atau bentuk lain dari penyakit paru-paru obstruktif kronis (COPD), infeksi (pneumonia atau bronkitis akut), inhibitor ACE (obat-obatan yang digunakan untuk merawat tekanan darah tinggi), dan merokok.

Gejala batuk kronis

Selain batuk yang terus menerus dan mengganggu, gejala lain yang menyertai kondisi ini bervariasi, tergantung pada penyebab utama batuk Anda. Beberapa gejala umum batuk kronis lain di antaranya adalah rasa adanya cairan yang menetes di bagian belakang tenggorokan, sensasi terbakar di belakang tulang dada, suara serak, hidung meler, radang tenggorokan, hidung mampet, mengi, dan sesak napas. Meskipun langka dan jarang ditemukan, batuk kronis juga dapat menyebabkan batuk darah, keringat pada malam hari, demam tinggi, turun berat badan tanpa diketahui penyebabnya, dan rasa sakit pada dada. Segera hubungi dokter untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan dini apabila Anda memiliki gejala-gejala tersebut.

Faktor risiko dan kapan harus konsultasi dengan dokter?

Anda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita batuk kronis terutama apabila Anda adalah seorang perokok aktif. Merokok tembakau akan merusak paru-paru serta menyebabkan kondisi COPD. Selain itu, orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah juga rentan menderita infeksi yang dapat menyebabkan batuk kronis.

Anda perlu mengunjungi dokter apabila batuk Anda terjadi selama lebih dari 3 minggu. Selain itu, konsultasikan dengan mereka apabila Anda menunjukkan gejala lain selain batuk, seperti turunnya berat badan yang tidak direncanakan, demam, batuk darah, dan sulit tidur. Pada saat pemeriksaan, dokter akan bertanya seputar batuk dan gejala lain. Anda juga akan mendapatkan beberapa tes pemeriksaan seperti tes refluks asam, endoscopy, kultur sputum, tes fungsi paru-paru, dan pemindaian CT atau sinar-X untuk mengetahui penyebab batuk kronis.

Apabila tes-tes tersebut tidak membantu dokter mengidentifikasi penyebab kondisi batuk kronis Anda, mereka akan memasukkan tabung tipis ke dalam tenggorokan atau hidung untuk melihat bagian dalam saluran udara atas. Sementara itu, bronkoskopi menggunakan sebuah alat untuk melihat lapisan saluran udara bagian bawah dan paru-paru. Dokter juga dapat menggunakan bronkoskopi untuk mengambil jaringan kecil untuk diperiksa.

more

Mudah Dilakukan, Inilah Langkah Pertama Atasi Tendinitis

Bagi Anda yang sering melakukan olahraga atau aktivitas berat, mungkin, sudah tidak asing lagi dengan rasa nyeri di beberapa bagian tubuh. Meski tidak selalu, tetapi kemungkinan besar rasa sakit itu terjadi akibat ada yang salah pada tendon Anda. Kondisi itu disebut tendinitis.

Tendon adalah jaringan ikat kuat yang menghubungkan otot dengan tulang. Ketika seseorang mengalami tendinitis, bagian itu mengalami peradangan atau iritasi. Bagian yang paling sering terserang tendinitis adalah tumit, lutut, siku, dan bahu, meski tidak selalu lantaran tendinitis bisa terjadi di mana saja.

Selain merasakan sakit dan nyeri di bagian persendiannya, seseorang yang terserang tendinitis juga amat mungkin mengalami pembengkakan ringan. Warna kemerahan atau lebam dan rasa panas juga dapat menyertai gejala tendinitis.

Seperti halnya jenis cedera yang lain, tendinitis masih dalam taraf yang tidak terlalu membahayakan. Namun, hal itu bukan berarti seseorang bisa mengabaikan gejala atau keluhan yang terjadi akibat tendinitis.

Mereka perlu melakukan upaya atau langkah-langkah untuk mengatasi atau setidaknya meredakan gejala dan keluhannya itu. Sebagai langkah awal, seseorang bisa melakukan beberapa metode terapi sederhana.

Metode tersebut biasa disebut “RICE” yang merupakan singkatan dari rest, ice, compression, dan elevation. Metode ini dinilai amat efektif membantu seseorang terbebas dari gejala tendinitis yang mereka rasakan:

  • Rest (beristirahat): Saat tubuh terserang tendinitis, maka seseorang wajib memberikan tubuh kesempatan untuk memulihkan diri dengan beristirahat dari kegiatan yang tengah dijalani.
  • Ice (kompres dengan es): Seseorang yang terserang tendinitis dapat menempelkan kantong es ke bagian tendon yang sakit. Hal ini dapat membantu mengurangi pembengkakan dan meredakan nyeri. Namun, pastikan agar tidak menempelkan es secara langsung dengan kulit.

Disarankan menggunakan kain untuk melindungi kulit dari radang dingin. Lakukan kompres sesuai kebutuhan, biasanya tak lebih dari 20 menit dalam setiap kesempatan. Saat ingin mengompres kembali, beri jeda sekitar 40 menit untuk kembali melakukan kompres.

  • Compression (membalut): Gunakan perban elastis atau perban kompresi untuk membalut bagian yang mengalami tendinitis. Balutan ini membantu meredakan pembengkakan dan membatasi gerakan sendi yang mungkin terjadi.
  • Elevation (meninggikan kaki): Angkat tendon atau sendi yang sakit hingga lebih tinggi dari jantung. Posisi ini membantu meredakan pembengkakan yang terjadi dan membatasi gerakan sendi. Cara ini bermanfaat terutama bagi tendinitis di bagian lutut.

Meski sudah melakukan langkah awal perawatan tersebut, seseorang yang terserang tendinitis tetap wajib memberikan perawatan setelah 48 jam dan selanjutnya. Sebab, sekalipun perawatan untuk mengatasi nyerinya diberikan sejak dini, tendinitis akan berlangsung selama lebih dari 3 bulan.

Selain melakukan beberapa langkah terapi sederhana di atas, seseorang yang terserang tendinitis juga bisa mencoba untuk minum obat antiradang. Obat ini berguna untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak. Obat yang bisa dikonsumsi adalah obat dengan jenis antiinflamasi non-steroid (OAINS) seperti paracetamol, aspirin, dan ibuprofen.

Pastikan konsumsinya sesuai dengan anjuran dokter. Jika radang tendon berada di dekat permukaan kulit, seseorang dapat menggunakan krim atau jel pereda nyeri agar rasa sakit lebih cepat mereda.

Tendinitis yang tidak diatasi dengan baik atau yang dibiarkan begitu saja tanpa penanganan bisa menyebabkan masalah baru. Seperti misalnya meningkatkan risiko putusnya tendon. Selain itu komplikasi lainnya bisa berupa tendinosis (tendon mengalami perubahan degeneratif).

Oleh karena itu, penting bagi seseorang yang mengalami beberapa gejala seperti tendinitis setelah berolahraga atau melakukan aktivitas berat untuk segera menemui dokter agar mendapat diagnosis dan perawatan yang tepat.

more

Prosedur dan Persiapan Sebelum Skin Prick Test

Skin prick test dilakukan dengan meneteskan alergen ke kulit lengan pasien

Konsultasi ke dokter perlu dilakukan bagi para orang tua jika anaknya mengalami alergi tertentu, hal ini dilakukan agar bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Untuk mendeteksi penyebab alergi, biasanya akan dilakukan beberapa tes alergi. Salah satu yang dilakukan adalah tes tusuk kulit atau skin prick test.

Merupakan tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang sedang mengalami alergi terhadap beberapa alergen sekaligus, seperti serbuk sari, jamur, bulu hewan, tungau ataupun makanan. Tes tusuk kulit pada anak-anak biasanya dilakukan tepat di bagian punggung atas, tes ini tidak memicu rasa nyeri karena jarum yang digunakan nyaris tidak menembus kulit.

Persiapan Skin Prick Test

Sebelum melakukan tes, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan terperinci, seperti di antaranya riwayat medis anak, tanda dan gejala yang dialami hingga cara yang biasa dilakukan orang tua dalam melakukan perawatan. Jawaban para orang tua akan sangat membantu dokter dalam menentukan alergi yang muncul, apakah karena faktor genetik atau faktor lain.

Selain itu ada baiknya juga calon pasien untuk dapat mengetahui beberapa hal penting terkait dengan tes ini. Hal ini diperlukan agar nantinya seseorang atau para orang tua tidak salah dalam mengambil langkah ketika ingin melakukan tes ini. Terdapat beberapa fakta menarik mengenai pemeriksaan ini, salah satunya tidak menimbulkan sakit yang dirasakan para pasiennya.

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas bahwa prosedur dari pemeriksaan tes ini sama sekali tidak menimbulkan rasa nyeri karena jarum yang digunakan nyaris tidak menembus kulit, sehingga bisa dipastikan anak tidak akan menangis ketika proses ini berlangsung. Namun, akan muncul perasaan tidak nyaman meskipun hanya sebentar.

Prosedur Tes Tusuk Kulit

  • Pertama dokter akan membersihkan kulit pada lengan atas atau lengan bawah menggunakan alkohol, kemudian memberi tanda dengan spidol atau pulpen.
  • Kemudian, dokter akan meneteskan sejumlah larutan sebanyak 10 hingga 12 kali tetes di setiap tanda yang sudah dibuat.
  • Larutan yang digunakan berupa campuran antara cairan dan alergen dari bahan alami seperti jenis makanan.
  • Setelah ditetes larutan, dokter akan menusuk area kulit yang sudah ditetes dengan jarum yang sangat tipis sehingga alergen bisa masuk ke bawah permukaan kulit.
  • Dokter akan mengamati reaksi yang muncul biasanya dalam 15 hingga 20 menit, bila positif terhadap alergen tertentu, akan muncul bentol merah dan gatal pada kulit.

Fungsi Tes Tusuk Kulit

Beberapa manfaat bisa didapatkan ketika para orang tua melakukan tes ini pada anak mereka, tes alergi dilakukan guna menentukan zat apa yang menyebabkan gejala alergi pada anak. Setelah itu dokter langsung akan melakukan tes alergi kulit jika mengalami beberapa gejala seperti di antaranya berikut ini.

  • Alergi rhinitis dan asma yang tidak terkontrol baik dengan obat-obatan hingga mengalami gatal dan angioedema.
  • Alergi makanan, muncul ruam kulit yang membuat kulit menjadi merah, sakit dan bengkak setelah kontak dengan substansi.
  • Alergi penisilin, alergi racun dan alergi obat terkait merupakan satu-satunya alergi obat yang bisa diuji dengan menggunakan tes kulit.

Efek Samping

Beberapa efek samping akan muncul setelah melakukan skin prick test, di antaranya benjolan yang sedikit bengkak, muncul warna merah hingga sensasi gatal. Efek samping ini akan lebih terlihat ketika prosedur tes tengah dijalankan atau pada saat tes dilakukan.

more

Kanker Usus Besar

Kanker usus besar, atau disebut sebagai kanker kolon, adalah jenis kanker yang memicu gangguan di bagian usus besar. Kanker usus besar biasanya bermula dengan terbentuknya gumpalan-gumpalan kecil non-kanker yang disebut sebagai polip adenoma. Secara perlahan, sebagian polip dapat berkembang menjadi kanker usus besar.

Gejala

Seseorang yang mengalami kanker usus besar akan mengakibatkan gejala sebagai berikut:

  • Perubahan pada warna tinja.
  • Perdarahan pada tinja atau anus.
  • Diare atau sembelit.
  • Mudah merasa lelah.
  • Berat badan menurun.
  • Mual atau muntah.

Penyebab

Kanker usus besar disebabkan oleh adanya mutasi DNA pada sel-sel yang sehat di bagian usus besar. Sel-sel yang ada di bagian usus besar tumbuh secara berlebihan dan tidak terkontrol dengan baik.

Sel-sel tersebut kemudian membentuk tumor. Selain itu, sel-sel terus tumbuh dan menghancurkan sel-sel sehat di sekelilingnya. Tidak hanya terjadi di bagian usus besar, sel-sel yang tumbuh dapat menyebar ke bagian tubuh lain sehingga membentuk sel-sel kanker, dan dapat menyebabkan kanker usus besar.

Risiko

Orang-orang yang memiliki risiko terhadap kanker usus besar adalah:

  • Orang-orang yang berusia di atas 50 tahun.
  • Orang-orang yang memiliki riwayat kanker.
  • Orang yang punya anggota keluarga yang memiliki riwayat kanker.
  • Orang-orang yang memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan pencernaan.
  • Orang yang memiliki sindrom yang diturunkan.
  • Orang yang memiliki kekurangan asupan serat di dalam tubuh.
  • Orang yang tidak berolahraga secara teratur.
  • Orang yang memiliki kelebihan berat badan.
  • Penderita diabetes.
  • Perokok.
  • Orang yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol.
  • Orang yang pernah menjalani terapi radiasi kanker.

Diagnosis

Jika Anda terkena kanker usus besar, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan diagnosis yang meliputi:

  • Skrining

Skrining adalah langkah awal untuk mengurangi risiko kematian karena kanker usus besar. Mendeteksi kanker usus di tahap awal dapat mengurangi risiko terkena kanker usus besar dan memberikan peluang besar untuk sembuh.

  • Kolonoskopi

Kolonoskopi meliputi selang panjang yang fleksibel, dilengkapi dengan kamera untuk menunjukkan gambar kondisi usus besar dan rektum. Jika terdapat sel maupun jaringan yang mencurigakan, maka dokter akan mengambil sampel tersebut untuk diuji di laboratorium khusus, untuk mengetahui keberadaan sel kanker.

  • Tes darah

Tes darah dapat dilakukan untuk menunjukkan kondisi kesehatan pasien, termasuk fungsi ginjal dan hati. Tidak hanya itu, dokter akan menguji darah pasien untuk mengetahui jika terdapat CEA (Carcinoembryonic Antigen), yang merupakan zat yang diproduksi kanker usus besar. Seiring berjalannya waktu, kadar CEA di dalam darah dapat membantu dokter melihat respons kanker terhadap pengobatan.

Pengobatan

Kanker usus besar dapat diobati berdasarkan stadium atau tingkat penyebaran di dalam tubuh pasien. Berikut adalah pengobatan yang dapat dilakukan:

  • Terapi radiasi

Terapi radiasi berupa X-ray dapat membunuh sel-sel kanker dan mengecilkan tumor di dalam tubuh, dan bertujuan untuk memudahkan operasi dengan mengangkat sel-sel kanker.

  • Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh.

  • Operasi

Operasi dilakukan dengan mengangkat polip kanker yang belum menempel pada dinding usus. Jika menempel di dinding usus, maka dokter bedah akan mengangkat sebagian usus besar, rektum, dan kelenjar getah bening terdekat.

Jika usus besar pasien masih memiliki jaringan atau bagian yang sehat setelah pengangkatan, dokter bedah dapat menempelkan kolon ke rektum. Jika tidak, maka dokter akan membuat saluran pada dinding perut untuk membuang kotoran.

Pencegahan

Berikut adalah beberapa hal untuk mencegah terjadinya kanker usus besar:

  • Mengkonsumsi makanan sehat.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Hindari kebiasaan mengkonsumsi alkohol.
  • Jangan merokok.
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal.
more