Category Penyakit

Bulu Mata Rontok Apakah Bisa Tumbuh Lagi?

Bulu mata rontok menjadi salah satu mimpi buruk yang setiap wanita tidak ingin miliki. Selain merusak penampilan, bulu mata rontok juga dapat mengurangi rasa percaya diri seseorang. Pada umumnya, bulu mata rontok merupakan hal yang normal. Sama seperti rambut di kepala Anda, bulu mata rontok memiliki siklus pertumbuhannya sendiri, mulai dari tumbuh, rontok, dan tumbuh kembali. Namun, dalam beberapa kasus, penyakit atau kondisi gangguan kesehatan tubuh tertentu dapat menyebabkan bulu mata rontok lebih parah dibandingkan biasanya. Beberapa penyakit dan kondisi kesehatan tersebut seperti alopecia areata, lupus, hypothyroidism dan hyperthyroidism, serta scleroderma. Selain itu, bulu mata yang rontok parah juga dapat disebabkanoleh blepharitis, sebuah kondisi peradangan pada kelopak mata yang disebabkan oleh alergi, infeksi, dan juga trauma.

Anda juga mungkin akan memiliki bulu mata rontok sementara apabila Anda sedang menjalani perawatan kemoterapi. Apabila ada alasan medis tertentu penyebab bulu mata rontok, dokter mungkin akan dapat merawat penyebabnya. Hal ini akan mengakibatkan bulu mata untuk tumbuh kembali seperti sedia kala. Apabila tidak ada penyebab tertentu yang menyebabkan bulu mata rontok dan Anda ingin mempercepat pertumbuhannya, ada beberapa cara medis yang dapat Anda lakukan.

Siklus pertumbuhan bulu mata

Orang dewasa pada umumnya memiliki 100 hingga 150 hela bulu mata di bagian kelopak mata atas dan sekitar 50 hingga 75 helai bulu mata pada bagian bawah. Masing-masing helai bulu mata memiliki siklus pertumbuhan yang dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu:

  • Fase anagen

Ini merupakan periode pertumbuhan pada setiap helai bulu mata. Fase ini biasanya akan berlangsung selama 2 minggu. Apabila bulu mata Anda rontok pada fase ini, bulu mata tersebut tidak akan tumbuh lagi dengan langsung.

  • Fase telogen

Fase ini merupakan fase yang paling lama terjadi, dapat berlangsung dari 4 hingga 9 bulan. Fase ini dianggap sebagai masa istirahat sebelum bulu mata rontok kembali dan tumbuh kembali sebagai gantinya. Fase komplit pertumbuhan bulu mata dapat bertahan dari 5 hingga 11 bulan. Kerontokan beberapa helai bulu mata setiap harinya merupakan hal yang wajar dan alami.

Mempercepat pertumbuhan kembali bulu mata

Anda dapat mempercepat pertumbuhan kembali bulu mata yang rontok dengan makan makanan yang sehat. Nutrisi yang baik mendukung pertumbuhan bulu mata, sekaligus menjaganya tetap sehat. Berikut ini adalah beberapa nutrisi yang dapat membantu produksi bulu mata.

  • Protein

Rambut Anda sebagian besar terbentuk dari protein. Sehingga, diet tinggi protein sangat penting dilakukan apabila Anda ingin mempercepat pertumbuhan bulu mata. Protein menyediakan tubuh asam amino, yang sangat dibutuhkan untuk memproduksi keratin. Keratin penting untuk menjaga bulu mata tetap sehat dan kuat.

  • Biotin

Biotin juga ikut mendukung produksi keratin. Biotin dapat ditemukan di banyak jenis makanan seperti kacang-kacangan, kembang kol, brokoli, kale, bawang, dan gandum utuh.

  • Buah dan sayuran yang kaya vitamin A dan C

Buah-buahan dan sayur-sayuran yang kaya akan vitamin A dan C membantu mendukung pertumbuhan bulu mata dengan cara mendukung produksi sel dan kolagen.

Bulu mata rontok memang suatu kondisi yang mengganggu, terutama apabila Anda sangat mementingkan penampilan Anda. Namun, bulu mata rontok merupakan kondisi yang alami dan natural. Bulu mata akan tumbuh kembali dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Hubungi dokter apabila kerontokan bertambah semakin parah untuk mendapatkan diagnosa penyebab yang tepat.

more

Mengenal Leptospirosis, Penyakit Yang Mengintai Saat Banjir

Saat musim hujan tiba, tidak hanya penyakit influenza saja yang mengintai di depan mata. Penyakit berbahaya lain seperti leptospirosis juga harus diwaspadai, terutama bagi Anda yang tinggal di daerah yang terkena banjir. Meskipun terbilang langka, leptospirosis adalah penyakit infeksi bakteri yang dapat ditularkan oleh hewan melalui urin. Saat banjir, kencing tikus dapat bercampur bersama air dan dapat masuk ke dalam tubuh, seperti melalui selaput lendir, mulut, hidung, dan mata. Apabila tidak diobati, leptospirosis dapat berkembang menjadi penyakit Weil atau meningitis, yang mana merupakan jenis penyakit fatal. Selain tikus, leptospirosis dapat ditularkan oleh sigung, babi, dan anjing. Leptospirosis biasanya tidak ditularkan antar manusia.

Penyakit leptospirosis biasa terjadi di negara-negara tropis. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 10 dari 100 ribu orang mengidap leptospirosis setiap tahunnya. Di iklim yang sedang, penyakit ini dapat menyerang 1 per 100 ribu orang, sementara di daerah epidemik, penyakit ini dapat menyerang 100 dari 100 ribu orang. Orang-orang yang bepergian ke daerah tropis juga memiliki risiko paparan leptospirosis.

Gejala leptospirosis

Menurut Departemen Kesehatan Negeri New York, gejala leptospirosis muncul 5 hingga 14 hari kemudian setelah tubuh terinfeksi bakteri Leptospira. Pada kebanyakan kasus, gejala yang muncul ringan seperti demam, menggigil, rasa sakit pada otot, pusing, batuk, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Dalam kasus-kasus tertentu, leptospirosis akan berkembang menjadi penyakit Weil, bentuk parah dari leptospirosis. Gejala penyakit Weil akan berkembang setelah 3 hari gejala ringan leptospirosis usai. Gejala penyakit ini berbeda-beda tergantung organ tubuh mana yang terinfeksi.

  • Hati, ginjal, dan jantung

Apabila ginjal, hati, dan jantung terinfeksi bakteri Leptospira, Anda mungkin akan mengalami mual, hilangnya nafsu makan, turun berat badan, pusing, pembengkakan pada pergelangan kaki, kaki, dan tangan, pembengkakan pada hati yang menyakitkan, penurunan produksi urin, napas pendek, detak jantung yang cepat, dan sakit kuning (kondisi di mana kulit dan bagian putih mata Anda berubah warna menjadi kuning).

  • Otak

Apabila otak Anda terinfeksi bakteri, gejala yang muncul termasuk demam tinggi, mual, muntah, sakit pada leher atau terasa kaku, mengantuk, kondisi mental yang bingung, perilaku agresif, kejang, ketidakmampuan dalam mengatur gerakan, ketidakmampuan dalam berbicara, dan tidak suka dengan cahaya.

  • Paru-paru

Apabila paru-paru Anda terinfeksi, gejala yang muncul termasuk demam tinggi, napas pendek, dan batuk darah.

Orang-orang yang berisiko terkena leptospirosis

Leptospirosis umumnya adalah penyakit akibat kerja, biasanya menyerang orang-orang yang bekerja berdekatan atau berhubungan dengan hewan, jaringan hewan, dan produk limbah hewan. Beberapa jenis hewan yang dikenal dapat menyebarkan leptospirosis adalah hewan ternak, babi, anjing, reptile, dan hewan pengerat seperti tikus. Sementara itu, orang-orang yang memiliki risiko tinggi terkena leptospirosis seperti petani, dokter hewan, nelayan, tukang daging, orang-orang yang mandi di sungai atau danau, pengendali hama, pekerja selokan, dan penambang. Leptospirosis merupakan penyakit yang ditemukan di seluruh dunia dengan banyak kasus ditemukan di negara-negara tropis. Pada musim hujan, orang-orang yang tinggal di daerah banjir rawan terkena leptospirosis karena risiko yang meningkat air banjir tercampur dengan urin hewan.

Bakteri Leptospira penyebab leptospirosis hidup di hewan seperti domba, kelelawar, tikus, anjing, babi, dan hewan ternak lainnya. Bakteri tersebut hidup dan berkembang di ginjal hewan, yang kemudian akan dikeluarkan bersama dengan urin, dan mencemari tanah ataupun air. Bakteri dapat hidup di tanah dan air selama berbulan-bulan. Untuk mencegahnya, gunakan antibiotik seperti doxycycline yang dapat mencegah infeksi ini.

more

Cara Mengatasi Efek Samping Kemoterapi

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan perawatan kemoterapi. Kemoterapi adalah perawatan yang dapat membantu melawan kanker, namun juga memiliki efek samping.  Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda.  Jenis obat kemo yang Anda gunakan dapat mempengaruhi pengalaman Anda mengenai efek samping kemoterapi.

Untungnya, ada berbagai cara untuk mengurangi dan bahkan mencegah efek samping kemoterapi. Anda akan menemukan informasi praktis tentang cara mengendalikan efek samping dari kemoterapi sehingga perawatan Anda berjalan sebaik mungkin.

Untuk membantu Anda, Anda perlu mengetahui detail spesifik tentang gejala yang Anda rasakan dan diskusikan dengan dokter atau perawat Anda. Beberapa hal yang mungkin perlu Anda ketahui meliputi:

 • Tanggal dan waktu efek samping terjadi

 • Berapa lama efek tersebut berlangsung?

 • Seberapa kuat itu — misalnya, jika Anda mengalami rasa sakit, seberapa kuatnya dalam skala dari 1 hingga 10, dengan 1 menjadi jumlah paling sedikit rasa sakit dan 10 yang paling kuat?

 • Bagaimana aktivitas sehari-hari Anda terpengaruh. Apakah ada efek samping dari obat Anda yang membuat Anda tidak dapat tidur, makan, berjalan, bekerja atau berolahraga?

Berikut efek samping kemoterapi yang umum terjadi dan cara mengatasi atau mengendalikan:

  1. Anemia

Anemia sangat umum terjadi pada pasien kanker, baik sebagai akibat langsung dari kanker atau sebagai efek samping dari kemoterapi. Kemoterapi, terapi radiasi dan kehilangan darah karena operasi adalah penyebab umum anemia pada pasien kanker.

Cara mengatasi

Dokter Anda mungkin akan memberikan resep suplemen zat besi, vitamin B12, atau suplemen asam folat. Mungkin juga untuk dokter menyarankan Anda agar mencoba beberapa perawatan sekaligus. Jika anemia yang Anda alami parah, Anda mungkin memerlukan transfusi darah. Namun biasanya, dokter akan memberikan resep obat agar tubuh Anda membuat lebih banyak sel darah merah.

Makanan yang kaya akan zat besi, seperti bayam, daging merah, dan kacang-kacangan, juga dapat membantu meningkatkan energi Anda.

  1. Mual dan muntah

Gejala ini dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah perawatan kemoterapi.

Cara mengatasi

Dokter Anda mungkin akan merekomendasikan obat mual spesifik berdasarkan jenis kemoterapi yang Anda dapatkan. Mungkin juga Anda perlu mencoba beberapa obat mual yang berbeda sebelum menemukan obat yang tepat untuk Anda.

Selain itu, Anda disarankan untuk konsumsi makanan dengan porsi kecil sepanjang hari, misalnya 5 kali sehari daripada makan dengan porsi yang besar. Serta minumlah cairan satu jam sebelum makan dan hindari minum air saat makan.

  1. Rambut rontok

Perawatan lemoterapi dapat membuat Anda kehilangan rambut tidak hanya di bagian kepala Anda tetapi di tempat lain, seperti alis, bulu mata dan bagian lain tubuh Anda.

Cara mengatasi

Rawat rambut dan kulit kepala Anda dengan lembut, dengan menggunakan produk sampo ringan, sikat bagian kepala dengan lembut, dan tidak menggunakan hair dryer, pengeriting rambut, pewarna, atau produk lain yang mudah merusak rambut Anda.

Anda juga dapat menggunakan sampo, kondisioner, dan krim pelembab pada rambut dan kulit kepala Anda sebelum kerontokan terjadi. Hal ini dapat membantu mengatasi kekeringan dan gatal.

Jika perlu gunakan wig, syal, turban, atau topi untuk menutupi kerontokan rambut Anda.

  1. Pendarahan, Memar, dan Infeksi

Kemoterapi membunuh sel darah putih Anda, yang berfungsi untuk melawan kuman, dan trombosit, yang membantu pembekuan darah Anda. Akibatnya, Anda memiliki risiko infeksi, perdarahan, dan memar yang lebih tinggi (bahkan saat Anda terbentur).

Cara mengatasi

Transfusi darah dan trombosit dapat membantu mengatasi efek samping satu ini. Begitu juga dengan suntikan obat yang dapat membantu tubuh Anda membuat lebih banyak sel darah.

  1. Luka di sekitar mulut dan tenggorokan

Luka yang menyakitkan dapat Anda membuat sulit untuk makan, dan membuat mulut serta tenggorokan mudah terinfeksi.

Cara mengatasi

Tanyakan kepada dokter Anda tentang obat dan salep nyeri yang dapat digunakan dibagian mulut Anda. Jika Anda mulai memiliki mulut kering, dokter mungkin akan merekomendasikan perawatan untuk membantu Anda menghasilkan lebih banyak air liur.

Selain itu, Anda juga dapat mengunjungi dokter gigi Anda 2 minggu sebelum Anda memulai kemo untuk menyelesaikan semua perawatan gigi. Serta sikat gigi dan lidah Anda setiap selesai makan dan sebelum tidur dengan sikat gigi lembut atau kapas.

Beberapa efek samping kemoterapi memerlukan bantuan medis dengan cepat.  Segera hubungi dokter Anda jika Anda memiliki:

  • Temperatur lebih dari 39 derajat
  • Pendarahan atau memar saat Anda tidak bergesekan dengan apapun
  • Reaksi ruam atau alergi, seperti pembengkakan atau kesulitan bernapas atau menelan
  • Menggigil hebat
  • Rasa sakit yang tidak bisa Anda jelaskan
  • Kesulitan bernafas
  • Darah di toilet setelah Anda menggunakan kamar mandi

Diare atau muntah yang berlangsung secara terus menerus

more
apa itu salmonella

Apa Itu Salmonella?

Salmonella adalah salah satu jenis bakteri jahat yang kerap muncul dan menginfeksi makanan, termasuk ayam, tomat, kacang tanah, salsa, guacamole, dan bahkan makanan-makanan hewan peliharaan. Bakteri ini tumbuh subur di saluran usus hewan dan manusia serta dapat menyebabkan keracunan makanan. Penyakit yang terjadi akibat Salmonella berkisar dari infeksi ringan hingga infeksi yang sangat serius, bahkan dapat membunuh orang-orang yang rentan. Meskipun begitu, ada beberapa cara untuk melindungi diri Anda dari infeksi Salmonella.

Sumber Makanan yang Berisiko Mengandung Salmonella
Setiap makanan mentah yang berasal dari hewan, seperti daging, unggas, susu dan produk olahan susu, telur, serta makanan laut, ataupun tumbuhan, seperti sebagian besar buah dan sayuran, dapat menjadi media berkembangnya bakteri salmonella. Agar tidak terinfeksi salmonella, seseorang harus menghindari asupan daging, unggas, atau telur yang mentah atau kurang matang, termasuk juga produk susu yang tidak dipasteurisasi. Anda juga harus memerhatikan dengan seksama pemberitahuan penarikan produk di pasaran atau peringatan mengenai informasi makanan yang sedang terjangkit bakteri salmonella. Produk makanan ini juga termasuk pada makanan olahan rumah yang dibuat dengan telur mentah, seperti mayones, adonan kue, dan es krim.

Apakah Memasak atau Mencuci Dapat Membunuh Salmonella?
Memasak hingga seluruh bahan matang sempurna dapat membunuh salmonella. Akan tetapi mencuci buah-buahan dan sayuran tidak semudah itu mampu membunuh salmonella, khususnya jika sedang terjadi wabah. Untuk itu, ada baiknya Anda mengolah bahan makanan hingga matang atau menghindari sepenuhnya asupan makanan yang dicurigai mengandung salmonella. Lebih lanjut, jika terjadi wabah, biasanya para penanggung jawab produk makanan dan kesehatan akan memperingatkan masyarakat untuk tidak makan makanan yang berpotensi terkontaminasi salmonella selama wabah. Dengan kata lain, Anda akan dianjurkan untuk tidak mengonsumsinya meskipun sudah dimasak.

Tips untuk Kebersihan dan Keamanan Bahan Makanan
Berikut adalah beberapa tips untuk pengolahan semua buah-buahan dan sayuran dalam upaya pencegahan keracunan makanan, di antaranya:

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air hangat sebelum dan sesudah mengolah bahan makanan.
  2. Cuci produk dengan seksama di bawah air mengalir, bukan di bak atau wastafel.
  3. Gunakan talenan dan peralatan yang bersih. Jangan biarkan produk bersentuhan dengan makanan mentah lain atau permukaan yang telah mereka sentuh.

Sumber Infeksi Salmonella Nonmakanan
Selain melalui makanan, infeksi salmonella juga dapat terjadi melalui hewan peliharaan. Pasalnya, bakteri salmonella hidup di usus hewan-hewan ini. Dengan kata lain, kotoran dari hewan-hewan ini berisiko menjadi media penyebaran bakteri berbahaya ini.

Hewan peliharaan tertentu, seperti kura-kura, ular dan reptil lainnya, anak ayam, serta burung mungkin untuk membawa bakteri ini. Untuk itu, pastikan agar selalu mencuci tangan Anda dengan sabun dan air hangat hingga bersih setelah bersentuhan dengan hewan peliharaan atau kotorannya.

Salmonella pada Anak Ayam
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat memperingatkan wabah salmonella yang berulang terjadi pada anak ayam. Pasalnya, banyak orang tua yang gemar memberikan anaknya hadiah anak ayam sebagai mainan dan peliharaan. Sayangnya, CDC tidak menganjurkannya dan menetapkan bahwa anak di bawah usia 5 tahun tidak boleh menyentuh anak ayam atau bebek.

Gejala dan Pengobatan Infeksi Salmonella
Gejala salmonellosis cukup beragam, mulai dari kram perut, diare, dan demam yang berkembang 12 hingga 72 jam setelah makan. Kebanyakan orang pulih dalam empat hingga tujuh hari dan tidak memerlukan perawatan selain minum banyak cairan. Orang dengan diare parah mungkin memerlukan cairan intravena. Pemberian antibiotik tidak selalu diperlukan pada orang sehat kecuali jika infeksi salmonella telah menyebar ke luar usus. Kasus-kasus yang serius dan berpotensi fatal, lebih mungkin terjadi pada anak-anak, orang dengan daya tahan tubuh lemah, atau orang lanjut usia.

more
perbedaan migrain stroke

Migrain Vs. Stroke, Apa Bedanya?

Stroke, salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian, memiliki gejala awal berupa sakit kepala. Lantas, bagaimana kita bisa mengidentifikasi potensi stroke saat mengalami sakit kepala? Sebab, gejala yang ditimbulkan hampir serupa migrain, yaitu sakit kepala yang amat sangat.

Penderita migrain biasanya sering mengalami sakit kepala hebat sejak muda. Jarang terjadi migrain perdana pada usia lebih dari 40 tahun. Jika Anda berusia lebih dari 40 tahun dan tidak pernah mengalami migrain, asumsikan sakit kepala hebat yang Anda alami berdampak sesuatu yang sangat serius. Segera minta pertolongan medis. Pengobatan dini dapat membatasi kerusakan otak dan menyelamatkan nyawa Anda.

Penderita migrain biasanya mengalami sakit kepala dengan tingkat kesakitan yang kurang lebih sama. Bagi penderita migrain yang merasakan sakit kepala kali ini berbeda, segera hubungi dokter.

Apakah Stroke Itu?

Stroke adalah kondisi saat aliran darah ke otak terputus. Akibatnya, sel-sel otak mati karena tidak mendapat cukup oksigen. Penyebabnya bisa dari terhambatnya aliran darah. Misalnya akibat penggumpalan darah, atau pecahnya pembuluh darah, sehingga otak tertutup oleh darah.

Selain sakit kepala yang amat sangat, stroke muncul dengan tanda-tanda berikut ini.

  • Separuh tubuh mati rasa, terasa kebas, dan lemas.
  • Tiba-tiba sulit berkata-kata dan memahami pembicaraan
  • Gangguan penglihatan di salah satu atau kedua mata
  • Pusing dan kehilangan keseimbangan
  • Merasa kebingungan

Jenis stroke yang biasa salah diartikan sebagai migrain adalah transient ischemic attack (TIA) yaitu ketika aliran darah ke otak terputus dalam waktu singkat. Stroke ini lebih dikenal dengan stroke ringan. Gejala tersebut di atas muncul, tapi dalam intensitas rendah dan berlangsung kurang dari satu jam.

Apakah Migrain Itu?

Migrain adalah penyakit yang menyebabnya terjadinya sakit kepala, kadang disertai mual, dan sensitivitas terhadap cahaya, bau, sentuhan, yang terjadi secara berulang-ulang. Sakit kepala berdenyut-denyut pun muncul dan terjadi di sekitar mata.

Bagaimana Membedakan Migrain dan Stroke?

Sulit membedakan migrain dan gejala stroke, terlebih stroke ringan (TIA). Berikut ini sedikit perbedaan yang bisa dirasakan.

  • Sakit kepala yang menjadi gejala stroke biasa datang secara mendadak. Langsung sakit seketika. Sementara itu, rasa sakit kepala karena migrain datang secara bertahap. Awalnya sakit kepala ringan dan makin hebat seiring waktu.
  • Gejala stroke bersifat negatif atau mengakibatkan kehilangan kemampuan. Misalnya, kehilangan penglihatan atau indra perasa di tangan. Sementara itu, gejala migrain bersifat positif, yaitu ada sensasi yang bertambah. Misalnya, seolah ada sinar yang menyilaukan mata atau rasa geli di kulit.
  • Stroke jarang dialangi kaum muda. Pada orang dengan usia lebih dari 40 tahun, tidak pernah mengalami migrain, memiliki catatan tekanan darah tinggi atau detak jantung tak normal, sakit kepala hebat hampir bisa diartikan sebagai gejala stroke.

Mengapa Gejalanya Mirip?

Dokter tidak dapat memastikan hubungan antara migrain dan stroke. Seseorang yang mengalami stroke, bisa juga sedang terserang migrain. Namun, hal ini tidak serta merta membuat migrain sebagai penyebab stroke Justru stroke yang mengakibtkan gejala migrain, termasuk gangguan penglihatan. Obat-obat migrain, seperti ergot alkaloid dan triptan, dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri. Saat terserang stroke, jangan sekali-kali mengonsumsi obat tersebut. Secara umum, cara hidup sehat yang mengurangi risiko terhadap stroke, termasuk berhenti merokok, juga mengurangi risiko terserang migrain.

more
perbedaan flu dan pilek

Perbedaan Antara Flu atau Pilek yang Harus Anda Ketahui

Mengetahui perbedaan pilek dan flu itu penting sekali. Sebab, flu bisa memicu komplikasi serius, seperti infeksi pneumonia pada paru yang mematikan. Penanganan flu sebaiknya dilakukan dalam 48 jam sejak gejala-gejala awal muncul. Obat-obatan antivirus melalui resep dokter bisa mempercepat kesembuhan. Simak perbedaan antara flu dan pilek dalam artikel ini!

Flu Menyerang dengan Cepat

Jika badan terasa remuk redam seketika, mungkin Anda terkena flu. Sakit tenggorokan, sakit kepala, badan pegal-pegal, hidung tersumbat, dan batuk, semua datang seketika.

Pilek tidak seberat flu, tetapi disertai hidung berair atau mampet. Flu bisa sembuh selama 2-5 hari, tetapi tubuh masih terasa tak nyaman selama seminggu bahkan lebih. Sedangkan pilek datang lambat dan sembuhnya cukup lama setelah sekitar 10 hari.

Flu Biasanya Demam

Sebagian orang biasanya sedikit demam ketika pilek, tetapi sebagian lagi tidak. Jika Anda menderita flu, Anda biasanya demam. Suhu bisa mencapai 38-40 derajat Celcius.

Anak-anak biasanya demam meskipun terserang pilek. Tetapi saat menderita flu, suhu tubuh bisa lebih tinggi lagi.

Jika Flu, Pegal Bisa Terasa Berminggu-minggu

Tubuh biasanya terasa sangat capek dan pegal-pegal. Rasa letih dan lemas ini bisa bertahan hingga 3 minggu, atau bahkan lebih lama pada orang-orang tertentu, seperti para lanjut usia, penderita penyakit kronis, ataupun yang daya tahan tubuhnya rendah. Beda dengan pilek, biasanya rasa tak enak badan itu hanya beberapa hari.

Sakit Kepala Flu Terasa Lebih Berat

Kedua penyakit ini sama-sama bikin sakit kepala. Tetapi sakit kepala karena pilek, terasa lebih ringan daripada flu. Begitu juga gejala-gejala pilek lainnya.

Batuk Flu bisa Lebih Parah

Pilek dan flu adalah penyakit pernapasan yang bisa menyebabkan batuk. Namun pneumonia (infeksi paru-paru) bisa terjadi sebagai komplikasi flu. Segera hubungi dokter jika batuk yang dialami parah. Apalagi jika disertai demam lebih dari 39 derajat Celcius, kedinginan, sulit bernapas, dan sakit dada jika batuk.

Sakit Telinga Bisa Terjadi pada Pilek dan Flu

Baik pilek maupun flu bisa menyebabkan gangguan pada telinga. Itu terjadi karena tekanan pada telinga meningkat. Akibatnya kita tidak bisa mendengar dengan baik, nyeri, dan terkadang terdengar seperti letupan di telinga. Biasanya semua akan menghilang seiring hilangnya gejala-gejala lain.

Hubungi dokter jika sakit telinga berlanjut meskipun pilek dan flu telah berlalu. Apalagi jika tiba-tiba menjadi sakit luar biasa. Bisa jadi terjadi infeksi telinga dan butuh penanganan lebih lanjut.

Pilek Sering Diawali Sakit Tenggorokan

Gejala awal ini biasanya menghilang dalam 1-2 hari, begitu juga hidung berair. Sakit tenggorokan kadang juga terjadi pada flu. Jika demikian, kemungkinan besar sakit tenggorokan itu datang bersama gejala flu lainnya.

Hidung Mampet Biasanya Gejala Pilek

Jika hidung mampet tetapi tidak demam, pegal-pegal, dan hanya sedikit tak enak badan, kemungkinan itu pilek. Meskipun mereka yang menderita flu bisa jadi juga mengalami hidung mampet dan bersin-bersin.

Kedua penyakit ini bisa memicu infeksi sinus. Di antara gejalanya adalah ingus berubah warna menjadi kuning atau hijau. Kemudian sakit kepala, sakit di kening, pipi, serta area tulang hidung. Anda bisa kesakitan jika menoleh atau menggerakkan kepala.

Kadang dari pilek atau flu, kita bisa terjangkit bakteri lain dan membutuhkan antibiotik.

more