Category Hidup Sehat

alkohol untuk kesehatan

Antara Alkohol dan Kesehatan; Sebuah Perspektif

Bagaimana kah menjelaskan hubungan antara alkohol dan kesehatan?

“Sesuatu yang rumit.”

Beberapa hasil penelitian telah menunjukkan manfaat kesehatan dari meminum alkohol dengan takaran rendah. Tetapi, jika jumlah alkohol yang dikonsumsi terlalu banyak, terutama jika dalam waktu yang tidak tepat, akan membahayakan pula. Begitulah dua kontradiksi yang menimbulkan debat dan kontroversi.

Mudah sekali untuk bilang bahwa konsumsi alkohol terlalu banyak itu membahayakan kesehatan. Lalu, apakah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar alkohol di bawah ini:

  • Seberapakah takaran dari “terlalu banyak”?
  • Adakah manfaat kesehatan yang didapat dari minum dengan takaran yang cukup ketimbang tidak meminumnya sama sekali?

Pertanyaan di atas menjadi bahan riset yang berguna bagi para peneliti dan jawabannya dapat membantu dokter, pejabat kesehatan publik, dan pembuat kebijakan diseluruh dunia serta dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Tetapi sejauh ini, jawabannya adalah tergantung pada penelitian yang metode penelitiannya bisa sangat berbeda satu sama lain. Contohnya, definisi dari “sekali minum” di Amerika adalah 14 gram alkohol seperti 12 ons bir botol, 5 ons gelas wine. Di negara lain, penelitian yang sama memiliki definisi atau ukuran yang berbeda.

Penelitian terbaru terkait alkohol dan kematian

Pada Juni 2018, penelitian yang dipublikasikan pada jurnal PLOS Medicine, menemukan bahwa diantara orang dewasa dengan usia lanjut, minum alkohol dengan takaran antara satu sampai empat gelas per minggu bisa menurunkan risiko kematian dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi sama sekali.

Pada Agustus 2018, dua penelitian yang lebih besar mengkaji dampak dari alkohol. Tersimpulkan pada penelitian yang dipublikasikan The Lancet, bahwa rekomendasi yang umum diketahui tentang takaran minum yang cukup (yaitu satu gelas atau kurang dalam sehari untuk wanita dan dua gelas per hari atau kurang untuk pria), malah terlalu banyak.

Penelitian kedua yang yang juga dipublikasi di The Lancet, mengkaji ratusan kasus dan sumber lainnya (termasuk penjualan alkohol, konsumsi minuman beralkohol yang diracik dirumah, dan bahkan perkiraan konsumsi turis) pada 195 lokasi. Analisa yang dilakukan menunjukan dampak kesehatan terhadap konsumsi alkohol termasuk kematian dan kecelakaan kendaraan bermotor, kanker, dan penyakit jantung. Penelitian tersebut juga menyimpulkan pilihan terbaik untuk keseluruhan kesehatan Anda adalah tidak minum alkohol sama sekali.

Berikut ini beberapa detil penjelasan tentang apa yang mereka temukan:

  • Konsumsi alkohol merupakan salah satu dari tujuh penyebab kematian tertinggi dan disabilitas di seluruh dunia pada tahun 2016; sekitar 2% kematian pada wanita dan 7% kematian pada pria.
  • Untuk usia 15 hingga 49 tahun, alkohol merupakan faktor penyebab kematian dan disabilitas paling banyak di seluruh dunia.
  • Untuk orang dewasa berusia lanjut, kanker akibat konsumsi alkohol merupakan penyebab kematian yang utama.
  • Pada umumnya, risiko kesehatan meningkat dengan bertambahnya jumlah alkohol yang diminum. Tetapi, beberapa efek positif yang didapatkan dari konsumsi rendah alkohol menunjukan bahwa risiko penyakit jantung dan diabetes berkurang 14% untuk pria yang minum 0.8 takaran per hari dan 18% untuk wanita dengan takaran 0.9 per hari, dibanding dengan yang tidak.

Dari hasil penelitian di atas, alangkah baiknya jika mulai membatasi konsumsi alkohol Anda dan tidak menjadikannya sebuah kebiasaan namun kegiatan yang sesekali saja.

more
makanan terburuk dan berbahaya untuk pencernaan

Hindari, Ini Dia 10 Makanan Terburuk yang Berbahaya untuk Pencernaan

Masalah pencernaan kerap terjadi karena kebiasaan hidup dan pola makan yang tidak sehat. Bahkan, ada banyak jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari padahal sangat buruk bagi pencernaan. Berikut adalah beberapa jenis makanan yang dapat berakibat buruk bagi pencernaan Anda jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

1. Gorengan
Makanan pertama yang pasti paling dekat dengan kehidupan harian masyakarat di Indonesia adalah gorengan. Camilan praktis dan lezat ini ternyata memiliki kandungan lemak yang sangat tinggi dan bisa menyebabkan diare. Ditambah lagi dengan saus, potongan daging berlemak, dan mentega juga bisa menyebabkan masalah pencernaan.

Untuk mengatasinya, pilih makanan yang dipanggang atau dibakar dengan menggunakan saus ringan. Jangan lupa untuk mengombinasikan makanan dengan sayuran dan mengganti mentega dengan krim.

2. Buah-buahan Sitrus
Buah-buahan sitrus seperti jeruk, lemon, dan jeruk bali memang baik untuk memberikan asupan vitamin C tubuh. Namun karena kandungan seratnya tinggi, buah-buahan ini dapat membuat perut menjadi bergejolak. Pastikan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi buah-buahan ini jika perut Anda merasa tidak enak.

3. Gula Buatan
Makanan yang juga identik dengan era modern saat ini adalah camilan dengan kandungan gula buatan. Mayoritas dari permen karet bebas gula dibuat dengan sorbitol yang akan berdampak pada perut kram dan diare. Makanan yang dibuat dengan pemanis buatan dapat berisiko menyebabkan masalah yang sama. Pusat Administrasi Makanan dan Obat AS memperingatkan bahwa Anda berisiko menderita diare jika Anda mengonsumsi 50 gram sorbitol per hari.

4. Serat Berlebihan
Makanan dengan kandungan karbohidrat sehat tinggi, seperti biji-bijian dan sayuran, memang baik untuk pencernaan. Tetapi jika Anda mulai mengonsumsinya dalam jumlah yang terlalu banyak, sistem pencernaan Anda mungkin akan mengalami kesulitan untuk dapat menyesuaikan diri. Hasilnya, Anda dapat memperoleh perut yang bergas dan kembung. Jadi, pastikan untuk membatasi jumlah serat yang Anda makan dalam kadar yang tepat.

5. Kacang
Kacang identik dengan kandungan protein dan serat yang sehat, tetapi mereka juga memiliki kandungan gula yang sulit dicerna yang menyebabkan perut bergas dan kram. Sayangnya, tubuh Anda tidak memiliki enzim yang dapat memecah gula jenis ini. Namun, Anda dapat mengatasinya dengan merendam kacang kering selama minimal 4 jam dan tiriskan air sebelum diolah.

6. Kubis
Sayuran silangan, seperti brokoli dan kol, memiliki kandungan gula yang sama dengan kacang yang mengandung gas. Seratnya yang tinggi juga bisa membuat sayuran ini menjadi sulit dicerna. Untuk itu, Anda lebih dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam keadaan matang dibandingkan dengan memakannya mentah.

7. Fruktosa
Makanan yang dimaniskan dengan fruktosa, seperti soda, permen, jus buah, dan kue kering, akan sangat sulit untuk dicerna. Fruktosa yang tinggi dapat menyebabkan diare, kembung, dan kram.

8. Makanan Pedas
Beberapa orang mengalami gangguan pencernaan atau mulas setelah memakannya, terutama saat itu adalah makanan yang banyak. Meskipun bukan menjadi penyebab utama mulas, makanan pedas ini dapat memperparah gejala. Bahkan, sebagian orang juga mengalami diare setelah mengonsumsi makanan pedas.

9. Produk Susu
Jika mereka memicu diare, kembung, dan perut bergas, Anda mungkin memiliki tubuh yang “tidak toleran” dengan laktosa. Ini berarti Anda tidak memiliki enzim yang dapat mencerna gula dalam susu atau produk olahan susu lainnya. Hindari makanan-makanan yang mengandung susu atau cobalah makanan alternatif lain untuk menggantikan asupan nutrisi dalam susu.

10. Peppermint
Terakhir, peppermint dapat mengendurkan otot di bagian atas perut, yang memungkinkan makanan bergerak kembali ke kerongkongan Anda. Kondisi bisa menyebabkan perut menjadi mulas. Selain peppermint, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh cokelat atau kopi. Para ahli mengatakan Anda dapat menurunkan tekanan yang mendorong makanan naik kembali dengan menjaga tubuh tetap duduk dan tidak berbaring setelah makan.

Itulah beberapa jenis makanan yang berbahaya bagi pencernaan. Meskipun begitu, upayakan untuk memahami kondisi tubuh Anda agar dapar mengetahui makanan dan nutrisi apa saja yang perlu dipenuhi untuk menyehatkan pencernaan Anda.

more