Category Uncategorized

Obat Untuk Nyeri Pada Otot Tulang Sendi

Nyeri tulang, otot, dan sendi disebabkan oleh berbagai faktor berbeda. Hal ini bisa jadi akibat kecelakaan atau cedera olahraga, atau bisa terjadi begitu saja melalui penggunaan berulang dari waktu ke waktu. Lalu obat otot tulang sendi apa yang bisa membantu kondisi ini?

Meskipun gejala dapat berbeda, terdapat beberapa gejala umum yang mungkin mengindikasikan Anda harus mencari pengobatan. Berikut adalah area masalah dan gejala paling umum:

  • Nyeri kaki, pergelangan kaki, lutut, atau pinggul, terutama saat berjalan
  • Nyeri tangan, pergelangan tangan, atau siku yang membuat tidak mungkin membawa benda
  • Nyeri bahu yang membatasi mobilitas lengan Anda atau menyebabkan bengkak atau memar

Nyeri tulang, otot, dan persendian dapat terjadi di hampir semua area tubuh Anda, dari kepala hingga jari kaki. Mengidentifikasi dimana letak rasa sakit Anda dan mengetahui gejala apa yang harus diperhatikan, akan membantu Anda dan dokter Anda menentukan jenis pengobatan terbaik.

Pengobatan untuk otot tulang sendi termasuk latihan dan tindakan fisik lainnya, obat-obatan yang mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsi, dan, untuk perubahan yang sangat parah, penggantian sendi atau operasi lainnya.

Biasanya obat-obatan otot tulang sendiri digunakan untuk melengkapi olahraga dan terapi fisik yang Anda jalani. Obat-obatan digunakan untuk mengurangi gejala dan dengan demikian memungkinkan aktivitas sehari-hari yang lebih normal.

Pereda nyeri sederhana (analgesik), seperti asetaminofen, digunakan sebelum aktivitas yang menyebabkan ketidaknyamanan Anda atau digunakan secara teratur untuk meredakan ketidaknyamanan sendi yang lebih konstan. Namun terkadang, Anda mungkin membutuhkan analgesik yang lebih manjur, seperti tramadol atau opioid.

Relaksan otot (biasanya dalam dosis rendah) terkadang meredakan nyeri yang disebabkan oleh otot yang tegang untuk menopang tulang sendi Anda.

Obat-obatan untuk otot tulang sendi, biasanya merupakan obat yang diresepkan oleh dokter. Jika Anda mengalami nyeri otot tulang sendi yang berlangsung cukup lama, segera temui dokter Anda.

more

Penyebab dan Pengobatan Kista Epididimis

Kista memang biasanya sering dialami wanita, namun ternyata juga dialami pria. Salah satu yang bisa saja terjadi adalah kista epididimis (spermatocele).

Kista merupakan pertumbuhan daging yang tidak normal berupa kantung yang berisi cairan, udara, dan zat-zat lain. Kista dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh, termasuk pada saluran reproduksi pria, atau dinamakan kista epididimis.

Kista tersebut jinak, berbentuk bulat kecil, berisi cairan bening atau keputihan. Berisi sel-sel sperma yang sudah mati.

Kasus umumnya, kista epididimis ini tidak berbahaya, tanpa gejala dan tidak perlu mendapat perawatan medis. Namun, bukan berarti boleh disepelekan. Sebab, kista tersebut membesar dan menimbulkan rasa sakit.

Penyebab Kista Epididimis (Spermatocele)

Menurut penelitian, spermatocele ini dialami oleh 30 persen pria dewasa yang biasanya berusia 20-50 tahun. Penyakit ini jarang terjadi pada anak-anak yang belum memasuki pubertas.

Penyebab pasti kista epididimis ini belum diketahui. Hanya saja, ini dikarenakan adanya cairan yang terjebak dalam saluran epididimis. Kerusakan saluran pembawa sperma dari kepala epididimis menyebabkan aliran sperma menjadi terhambat. Kemudian membuat sperma terjebak di bagian atas epididimis dan memicu kista.

Akan teta[i ada juga kasus yang berawal tanpa adanya kerusakan, pembengkakan, atau luka. Kista epididimis muncul begitu saja.

Kista epididimis tidak berdampak pada kesuburan pria dan tidak mengganggu aktivitas pembuangan air kecil.

Gejala Kista Epididimis

Seperti yang sudah dijelaskan, kebanyakan kasus, kista Epididimis ini tidak menimbulkan tanda-tanda atau gejala seperti rasa sakit. Hanya saja, jika benjolan membesar, maka akan terasa nyeri. Benjolan ini dapat diraba dengan jelas, permukaannya halus, serta lunak. Penderita dengan mudah dapat merasakan benjolan di atas buah zakar ini di salah satu skrotum atau pembesaran di seluruh skrotum.

Berikut gejala yang mungkin dirasakan oleh penderita:

  • Terdapat kemerahan di skrotum
  • Terasa nyeri atay sakit
  • Dasar testikel akan mengalami pembengkakan
  • Testis terasa berat
  • Pada dasar testis akan terasa tekanan
  • Bagian belakang atau atas testis terasa penuh

Cara Mengobati Kista Epididimis

Kista yang masih kecil dan tidak menimbulkan gejala berupa sakit atau nyeri, sebenarnya tidak perlu mendapat pengobatan. Pengidap hanya disarankan untuk memantau perkembangan kista tersebut. Bila kista epididimis bertambah besar ukurannya, maka perlu memberitahukan kepada dokter. Jika kista terjadi pada anak-anak, biasanya akan bisa hilang sendiri.

Namun, bila ukuran kista semakin membesar, maka ada beberapa prosedur medis yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Pembedahan

Semakin besar ukuran kista dan membuat rasa tidak nyaman, maka pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pembedahan. Tindakan medis ini akan memisahkan kista dari epididimis dengan melakukan sedikit sayatan di skrotum.

Namun, tentu saja pembedahan dilakukan dengan indikasi medis. Sebab akan menimbulkan rasa nyeri jangka panjang. Bahkan bisa menjadi lebih buruk.

Adanya pembedahan ini menyebabkan adanya bekas luka (scar) di saluran kelamin pria yang menghambat aliran sperma. Sehingga akan menyebabkan terganggunya kesuburan pria (fertilitas).

  • Aspirasi

Selain itu, ada juga pengobatan yang dapat dilakukan yaitu aspirasi dan skleroterapi, meskipun sangat jarang dipilih.

Biasanya metode ini menyebabkan kemandulan sehingga hanya disarankan pada pria yang tidak ingin memiliki keturunan lagi Hal ini dikarenakan skleroterapi berisiko mengalami epididimitis kimiawi dan kerusakan epididimis.

Pengobatan kita epididimis dengan metode aspirasi biasanya berbarengan dengan skleroterapi, yakni dengan menyuntikkan sklerosing. Nantinya, cairan yang ada di dalam kantung digantikan oleh jaringan parut. Di kemudian hari, risiko kemunculan kista akan menurun.

more

Termasuk Kekerasan Seksual, Ini Rentetan Fakta Mengenai Ekshibisionisme

Kekerasan seksual tidak hanya pemerkosaan, kenali lebih lanjut tentang batasan-batasannya disini

Kekerasan seksual menjadi isu atau permasalahan yang harus segera dituntaskan. Sebab kejahatan itu memiliki dampak yang mengkhawatirkan bagi para penyintas atau korbannya. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, dalam kurun waktu 12 tahun kekerasan seksual terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen atau hampir 8 kali lipat. Dalam kurun waktu 12 tahun tersebut, tercatat sebanyak 431.471 kasus kekerasan seksual yang terjadi terhadap perempuan hingga akhir tahun 2019 lalu.

Salah satu jenis kekerasan seksual yang marak terjadi di Indonesia adalah ekshibisionisme. Ekshibisionisme merupakan tindakan memperlihatkan atau mempertontonkan alat kelamin kepada orang lain dengan tujuan pemenuhan hasrat atau kepuasan diri secara seksual.

American Psychiatric Association menyatakan seksual ekshibisionis masuk ke dalam kategori parafilia. Penyimpangan perilaku seksual ini merupakan gangguan melalui interaksi non-fisik.

Ekshibisionisme terjadi karena kelainan atau gangguan kejiwaan pelakunya. Tindakan ini juga merupakan salah satu jenis penyimpangan seksual. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai salah satu tindak kekerasan seksual ini, simak rentetan fakta ekshibisionisme di bawah ini:

  • Reaksi Korban Adalah Sumber Kepuasan

Reaksi korban, seperti kaget, takut, dan sebagainya, merupakan sumber kepuasan bagi para ekshibisionis. Ekspresi korban itulah yang diubah oleh pelaku kekerasan seksual jenis ini untuk memenuhi hasratnya. Oleh karena itu, disarankan untuk menghadapi pelaku setenang mungkin dan tidak heboh. Sebab pelaku akan merasa kecewa jika korban bersikap cuek.

  • Pelaku Merasa Superior

Salah satu pemicu ekshibionisme adalah pelaku merasa berkuasa terhadap lingkungannya atau ‘berkuasa’ sehingga tidak takut atau malu terhadap apa yang diperbuatnya.

Perasaan superior itulah yang membuat pelaku mampu menakut-nakuti atau mendapatkan reaksi kaget dari orang lain ketika melakukan ekshibisionisme tersebut.

  • Termasuk Gangguan Kejiwaan, tetapi Perlu Pemeriksaan Lanjutan

Menurut para ahli, meski ekshibionisme adalah penyimpangan seksual yang dilatarbelakangi fantasi dan dorongan seksual yang kuat, pelaku belum bisa langsung disebut mengalami gangguan jiwa.

Psikolog mengatakan butuh pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah aksi yang dilakukan pelaku termasuk gangguan kejiwaan. Yang pasti, perilaku ini sangat tidak wajar dan meresahkan.

  • Perilaku Ekshibisionisme Tidak Mengenal Gender

Tindak ekshibisionisme memang cenderung dilakukan oleh pria, tetapi tidak menutup kemungkinan jika wanita juga menjadi ekshibisionis. Seorang wanita pun bisa memamerkan tubuhnya dengan tujuan mendapatkan kepuasan seksual dari reaksi korban.

  • Ada Banyak Ragamnya

Gangguan ekshibisionis memiliki subtipe yang beragam. Ada orang yang lebih suka mengekspos alat kelamin mereka kepada anak-anak praremaja, orang dewasa, maupun keduanya. Umumnya, gejala kelainan seksual yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan seksual ini muncul pada masa remaja akhir atau dewasa awal dan biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia.

  • Pengobatan bagi Ekshibisionis

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk para ekshibisionis adalah terapi. Dengan bantuan obat dan terapi yang tepat, perilaku ini dapat dikurangi. Dalam buku The SAGE Encyclopedia of Psychology and Gender (2017), terapi perilaku kognitif (CBT) menjadi pengobatan paling efektif untuk ekshibisionisme. 

Terapi ini berfokus pada cara untuk memenuhi keintiman dan kebutuhan emosional. Terapi ini juga menyertakan pentingnya empati bagi para korban, serta mengidentifikasi pikiran dan perasaan yang memicu perilaku ekshibisionis.

Jika pelaku sudah bisa mengidentifikasi pikirannya, psikolog atau psikiater akan membantu mereka untuk mengelola dorongan seksual tersebut.Selain itu, artikel Psychology Today menyebutkan pendekatan psikoterapi lain yang bisa digunakan untuk menyembuhkan ekshibisionis. Misalnya pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan koping, dan restrukturisasi kognitif. Terapi lainnya adalah terapi obat-obatan, seperti penggunaan obat yang bisa menghambat hormon seksual dan mengakibatkan penurunan hasrat seksual.

Tak dapat dimungkiri jika di sekitar kita banyak terdapat ekshibisionis. Setelah mengetahui fakta-fakta di atas, diharapkan jika suatu waktu kita menjadi korban dari tindak kekerasan seksual tersebut, kita dapat bertindak dengan tepat. 

Peran orang tua dalam fenomena ini mungkin amat krusial. Jika Anda melihat tanda-tanda perilaku itu pada anak Anda, sebisa mungkin segera bawa dia ke psikolog atau psikiater agar kemungkinan melakukan tindak kekerasan seksual tersebut dapat dicegah. Selain itu, peran orang dalam memberi pengetahuan dan informasi mengenai ekshibisionisme kepada anak juga penting agar mereka tidak turut menjadi korban.

more