Category Operasi

Mengenal Tubektomi, Pilihan Kontrasepsi yang Bersifat Permanen

Sebagian istri yang tidak ingin mempunyai anak, memutuskan untuk melakukan tubektomi. Umumnya mereka yang mengambil langkah ini telah memiliki tiga orang anak atau lebih, telah berusia di atas 40 tahun, memiliki kondisi medis tertentu, atau alasan lainnya.

Persentase keberhasilan yang mencapai 99% membuat tubektomi menjadi pilihan tindakan kontrasepsi yang bersifat permanen.

Lebih jauh tentang tubektomi

Pada prosedur tubektomi, akan dilakukan pemotongan atau penutupan tuba falopi. Tujuannya tentu saja agar tidak terjadi pembuahan. Sebagai metode kontrasepsi permanen, cara ini kadang disebut sterilisasi.

Mengapa cara ini sangat efektif? Dalam kondisi normal, ovarium akan melepaskan sel telur. Ovum atau sel telur tersebut akan menuju tuba falopi dan berdiam di sana selama beberapa hari. Bila sperma berhasil bergerak menuju tuba falopi dan sel telur ada di sana, maka terjadilah pembuahan. Prosedur tubektomi akan menghalangi sperma untuk bertemu sel telur, maka pembuahan pun tidak akan terjadi.

Sebagian dari Anda mungkin akan bertanya, bagaimana dengan proses menstruasi? Tidak perlu khawatir, setelah menjalani tubektomi, pelepasan sel telur dan menstruasi akan tetap berjalan seperti biasa sampai masa menopause tiba.

Biasanya, dokter akan merekomendasikan prosedur tubektomi kepada pasien yang memiliki kondisi kehamilan membahayakan, mempunyai kelainan genetik yang berpotensi diturunkan, atau tidak ingin memiliki keturunan.

Selain sangat efektif untuk mencegah kehamilan, prosedur tubektomi juga dapat menurunkan risiko kanker ovarium.

Prosedur tubektomi

Barangkali tidak sedikit dari Anda yang ingin melakukan tindakan tubektomi, akan tetapi merasa takut dan khawatir. Sekaligus bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan selama prosedur tubektomi tersebut?

Tindakan tubektomi umumnya dapat selesai dalam waktu relatif singkat, yaitu 30 menit. Dan dapat dilakukan dengan dua metode, sebagai berikut:

1. Metode laparoskopi

Pertama, tentu saja pasien akan diberikan anestesi atau obat bius. Umumnya, anestesi yang diberikan merupakan anestesi umum atau bius total. Dokter akan memberikan cairan anestesi melalui infus.

Saat akan menjalani tubektomi dengan operasi laparoskopi ini, dokter juga akan memasang selang pada tenggorokan pasien untuk membantu pernapasan.

Jika obat anestesi sudah mulai bekerja, dokter akan membuat beberapa sayatan kecil pada perut pasien. Area di sekitar sayatan tersebut, dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan antiseptik untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi.

Melalui salah satu sayatan, dokter akan memasukkan gas ke dalam perut pasien. Hal ini ditujukan agar organ-organ terlihat secara jelas. Sementara itu, melalui lubang sayatan lain, dokter memasukkan alat laparoskop. Sayatan kecil juga dibuat untuk mencapai tuba falopi.

Kemudian, tuba falopi akan dijepit, diikat, dipotong, atau disumbat, untuk mencegah terjadinya pembuahan. Terakhir, setelah semua alat dikeluarkan, sayatan tersebut akan dijahit dan ditutup.

2. Metode histeroskopi

Berbeda dengan laparoskopi yang menggunakan obat anestesi umum, pada metode histeroskopi dapat digunakan obat bius total atau obat bius lokal.

Selanjutnya, dokter akan memasukkan alat histeroskop melalui vagina dan leher rahim. Di dalam rahim, dokter akan meletakkan alat kecil pada tuba falopi. Setelahnya, jaringan parut akan terbentuk dan menyumbat tuba falopi.

Setelah menjalani tubektomi, dokter akan memantau kondisi Anda selama 15-60 menit. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada komplikasi. Dan bila diketahui tidak ada komplikasi, biasanya Anda diperbolehkan pulang pada hari yang sama.

Dibutuhkan waktu dua hingga lima hari untuk pemulihan pasca menjalani tubektomi. Setelahnya, Anda masih perlu melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi kembali dengan dokter.

more