Category Operasi & Tindakan Medis

Seberapa Efektifkah Menghancurkan Lemak dengan Metode Kavitasi Lemak?

Seberapa Efektifkah Menghancurkan Lemak dengan Metode Kavitasi Lemak?

Memiliki bentuk tubuh yang ideal tentu menjadi idaman hampir semua orang, baik wanita maupun pria. Oleh karena itulah banyak orang yang rela melakukan apapun untuk mendapatkannya, mulai dari olahraga secara teratur, diet ketat, menjaga makanan yang dikonsumsi hingga melakukan kavitasi lemak. 

Apa sih sebenarnya kavitasi lemak itu sendiri? Adalah sebuah metode atau prosedur kecantikan yang dilakukan untuk menghancurkan timbunan lemak yang ada di dalam tubuh. Prosedur ini disebut juga ultrasonic cavitation atau ultrasound cavitation. Bagaimana cara kerjanya dan seberapa efektifkah metode ini? Yuk, simak lebih lanjut! 

Kavitasi lemak, apakah itu?

Ultrasonic cavitation menjadi prosedur yang belakang ini banyak digunakan orang daripada sedot lemak untuk menghilangkan lemak di area tertentu pada tubuh mereka. Perawatan ini menggunakan gelombang radio ultrasonik yang berfungsi memecah sel-sel lemak, yang kemudian akan diserap ke dalam tubuh oleh sistem limfatik Anda. 

Jadi, pada perawatan ini Anda tidak perlu mendapatkan sayatan atau bedah layaknya perawatan sedot lemak dan lainnya, pun tidak meninggalkan bekas luka apapun. Perlu Anda ketahui, metode ini bukanlah untuk menurunkan berat badan, namun menghilangkan lemak pada area tertentu di tubuh Anda.

Seberapa efektifkah kavitasi lemak ini?

Dalam hal efektivitas pada prosedur ini, tentu akan berbeda hasilnya pada tiap individu. Selain itu, Anda tidak dapat melihat hasilnya hanya dengan melakukan satu kali perawatan saja. Satu kali perawatan tidak akan menghilangkan timbunan lemak dan menjadikan tubuh Anda menjadi sesuatu yang baru. Jika Anda mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, kavitasi lemak ini tidak akan efektif untuk menghilangkan lemak secara cepat.

Keberhasilan dan efektivitas dalam menggunakan ultrasonic cavitation ini pun akan tergantung pada gaya hidup dan metabolisme tubuh pasien itu sendiri. Dalam kasus di mana pasien mengikuti diet seimbang dan berolahraga secara teratur, perawatan ini akan sangat berhasil dan efektif. 

Sebaliknya, jika mereka mengabaikan olahraga dan makan makanan secara sembarangan atau tidak sehat, prosedur ini tidak akan berguna. Satu hal lagi terkait efektivitas, setelah sel-sel lemak dihancurkan akan menghasilkan hasil yang permanen. Namun, tetap harus diimbangi dengan olahraga dan gaya hidup sehat. 

Area target ultrasonic cavitation

Beberapa penelitian menyarankan bahwa perawatan ini paling efektif untuk mengurangi lemak di bagian fibrotik di tubuh Anda, yang meliputi bagian punggung dan dada. Kavitasi lemak juga sering dilakukan pada area:

  • Perut 
  • Pinggul
  • Wajah
  • Leher
  • Lengan bagian atas
  • Daerah paha

Bagaimana cara kerja kavitasi lemak?

Kavitasi ultrasonik akan mengandalkan teknologi ultrasonik untuk memecah sel lemak pada area tertentu. Nah, gelombang ultrasonik tersebut akan dikirim jauh ke dalam lapisan kulit Anda, dan menyebabkan getaran yang mengganggu. 

Sel lemak kemudian pecah satu sama lain dan terlepas dari lapisan kulit Anda. Setelah beberapa hari, sel-sel lemak tersebut akan diserap oleh sistem limfatik Anda dan dibuang sebagai limbah dari tubuh Anda.  

Efek samping 

Ultrasonic cavitation dianggap sebagai pengobatan atau metode berisiko rendah bagi kebanyakan orang. Efek samping yang biasanya terjadi hanya meliputi:

  • Kemerahan 
  • Memar
  • Sakit kepala

Dalam beberapa kasus, kulit tidak akan menyerap lemak secara merata setelah rusak. Benjolan akan muncul pada kulit setelah perawatan kavitasi ultrasonik, serta ketidakteraturan kulit ini dapat diatasi dengan perawatan lanjutan. 

Jadi, kavitasi lemak adalah prosedur yang dapat mengatasi lemak yang terdapat pada tubuh. Efektivitasnya pun akan tergantung pada individu masing-masing serta gaya hidup yang mereka jalankan setelah melakukan prosedur tersebut. Bagaimana, Anda tertarik untuk mencobanya?

more

Mengenal Tubektomi, Pilihan Kontrasepsi yang Bersifat Permanen

Sebagian istri yang tidak ingin mempunyai anak, memutuskan untuk melakukan tubektomi. Umumnya mereka yang mengambil langkah ini telah memiliki tiga orang anak atau lebih, telah berusia di atas 40 tahun, memiliki kondisi medis tertentu, atau alasan lainnya.

Persentase keberhasilan yang mencapai 99% membuat tubektomi menjadi pilihan tindakan kontrasepsi yang bersifat permanen.

Lebih jauh tentang tubektomi

Pada prosedur tubektomi, akan dilakukan pemotongan atau penutupan tuba falopi. Tujuannya tentu saja agar tidak terjadi pembuahan. Sebagai metode kontrasepsi permanen, cara ini kadang disebut sterilisasi.

Mengapa cara ini sangat efektif? Dalam kondisi normal, ovarium akan melepaskan sel telur. Ovum atau sel telur tersebut akan menuju tuba falopi dan berdiam di sana selama beberapa hari. Bila sperma berhasil bergerak menuju tuba falopi dan sel telur ada di sana, maka terjadilah pembuahan. Prosedur tubektomi akan menghalangi sperma untuk bertemu sel telur, maka pembuahan pun tidak akan terjadi.

Sebagian dari Anda mungkin akan bertanya, bagaimana dengan proses menstruasi? Tidak perlu khawatir, setelah menjalani tubektomi, pelepasan sel telur dan menstruasi akan tetap berjalan seperti biasa sampai masa menopause tiba.

Biasanya, dokter akan merekomendasikan prosedur tubektomi kepada pasien yang memiliki kondisi kehamilan membahayakan, mempunyai kelainan genetik yang berpotensi diturunkan, atau tidak ingin memiliki keturunan.

Selain sangat efektif untuk mencegah kehamilan, prosedur tubektomi juga dapat menurunkan risiko kanker ovarium.

Prosedur tubektomi

Barangkali tidak sedikit dari Anda yang ingin melakukan tindakan tubektomi, akan tetapi merasa takut dan khawatir. Sekaligus bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan selama prosedur tubektomi tersebut?

Tindakan tubektomi umumnya dapat selesai dalam waktu relatif singkat, yaitu 30 menit. Dan dapat dilakukan dengan dua metode, sebagai berikut:

1. Metode laparoskopi

Pertama, tentu saja pasien akan diberikan anestesi atau obat bius. Umumnya, anestesi yang diberikan merupakan anestesi umum atau bius total. Dokter akan memberikan cairan anestesi melalui infus.

Saat akan menjalani tubektomi dengan operasi laparoskopi ini, dokter juga akan memasang selang pada tenggorokan pasien untuk membantu pernapasan.

Jika obat anestesi sudah mulai bekerja, dokter akan membuat beberapa sayatan kecil pada perut pasien. Area di sekitar sayatan tersebut, dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan antiseptik untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi.

Melalui salah satu sayatan, dokter akan memasukkan gas ke dalam perut pasien. Hal ini ditujukan agar organ-organ terlihat secara jelas. Sementara itu, melalui lubang sayatan lain, dokter memasukkan alat laparoskop. Sayatan kecil juga dibuat untuk mencapai tuba falopi.

Kemudian, tuba falopi akan dijepit, diikat, dipotong, atau disumbat, untuk mencegah terjadinya pembuahan. Terakhir, setelah semua alat dikeluarkan, sayatan tersebut akan dijahit dan ditutup.

2. Metode histeroskopi

Berbeda dengan laparoskopi yang menggunakan obat anestesi umum, pada metode histeroskopi dapat digunakan obat bius total atau obat bius lokal.

Selanjutnya, dokter akan memasukkan alat histeroskop melalui vagina dan leher rahim. Di dalam rahim, dokter akan meletakkan alat kecil pada tuba falopi. Setelahnya, jaringan parut akan terbentuk dan menyumbat tuba falopi.

Setelah menjalani tubektomi, dokter akan memantau kondisi Anda selama 15-60 menit. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada komplikasi. Dan bila diketahui tidak ada komplikasi, biasanya Anda diperbolehkan pulang pada hari yang sama.

Dibutuhkan waktu dua hingga lima hari untuk pemulihan pasca menjalani tubektomi. Setelahnya, Anda masih perlu melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi kembali dengan dokter.

more